RPH Pegirian Bakal Dipindah ke Banjarsugihan, Kapan?

Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya berencana memindahkan Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Pegirian (PD RPH) ke daerah Tandes. Ini karena tempat pemotongan sapi tersebut dekat dengan kawasan Ampel yang dikembangkan menjadi Wisata Religi.

“Pak Wali  (Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, red) memang berencana memindahkan RPH Pegirian ke Banjarsugihan, Tandes. Karena kondisi di Pegirian semakin padat dan dekat Wisata Religi Ampel yang semakin besar,” ujar Plt Direktur Utama PD RPH M Faiz di Gedung DPRD Surabaya, Kamis (6/1/2022).

Bacaan Lainnya

Soal kapan rencana pindah itu direalisasikan, dia mengaku belum tahu. Luas lahan di Banjarsugihan yang dijadikan tempat relokasi RPH Pegirian sekitar 1,3 hektare. Lebih kecil jika dibanding RPH Pegirian yang memiliki luas 1,5 hektare. Itu hanya induknya saja. Belum kandang yang memiliki luas 600 meter persegi dan juga lahan di belakang RPH seluas 1,3 hektare yang disewakan.

Pemkot sendiri memiliki dua RPH, yakni RPH Pegirian dan RPH Kedurus. Untuk RPH Pegirian setiap hari memotong 90 ekor sapi dan kambing mulai pukul 23.00 hingga 04.00. Pada jam yang sama di RPH Kedurus juga memotong 45 hingga 50 ekor. “Jadi setiap hari kita mendistribusikan daging sekitar 90 ton dari kedua RPH tersebut. RPH Pegirian mendistribusikan ke wilayah Surabaya Utara dan Tengah. Sedangkan RPH Kedurus ke Surabaya Barat dan Tengah,” ungkap M Faiz

Ditanya soal revitalisasi RPH Pegirian yang diwacanakan sejak 2017, tapi hingga kini belum ada pergerakan yang signifikan, M Faiz menyatakan, jika semua pasti terkait peraturannya. “Kita ini kan hanya pelaksana, tapi registrasinya di pemkot,” tandas dia.

Revitalisasi untuk modernisasi peralatan dan proses pemotongan hewan apa sudah dihitung? M Faiz mengaku, sudah ada kajian tim dari ITS dan Universitas Airlangga (Unair) dan sekarang ini sedang berjalan.” Soal anggarannya berapa, angkanya masih belum keluar,” jelas dia.

Baca Juga:  Pengawasan Distribusi LPG 3 Kilogram Bakal Diketatkan di Surabaya, Warga Miskin Jadi Prioritas

M Faiz menjelaskan, pendapatan RPH dari jasa potong sekitar Rp 3 miliar per tahun. Hanya saja, kebutuhan untuk operasional lebih besar yakni Rp 6 miliar lebih. Karena itu tak heran, jika RPH selalu dibayangi kerugian. “Ini sudah kita sampaikan ke Komisi B, dan peraturan daerah (perda)-nya harus ada pembenahan atau revisi. Karena tarif jasa potong tergolong murah sekali. Untuk sapi Rp 50 ribu per ekor, sedang kambing Rp 7.500 per ekor. Ya, masih mahal harga soto semangkok,” tutur dia. (dhi).

Pos terkait