D-ONENEWS.COM

Tim ITS dan DLH Survey Tanah Berasap Dikawasan Dipo Sidotopo, Imbau Warga Tidak Panik

Surabaya,(DOC) – Tanah berasap di kawasan Dipo Sidotopo, Surabaya, yang sempat gegerkan warga, Sabtu (4/1/2020) lalu, menarik perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya bersama tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk melakukan survei guna mengetahui penyebab dari munculnya fenomena tersebut, pada Minggu(5/1/2020) siang.

Tim dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS yang dipimpin oleh Dr Ir Amien Widodo MSi terdiri dari Dr Ira Anjasmara, Juan Rohman ST MT, dan Wien Lestari ST MT. Tim ini bersama tim DLH Kota Surabaya mengunjungi lokasi untuk mengambil sampel tanah yang selanjutnya akan diuji di Laboratorium Energi ITS.

Menurut Amien, asap tersebut memang benar keluar dari tanah hingga dapat menyebabkan kayu dan koran yang coba dimasukkan bisa langsung terbakar.

Dari hasil kunjungan di lapangan, dosen Departemen Teknik Geofisika ini bersama tim menemukan beberapa fakta menarik. Tanah berasap tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dengan tanah yang ada di sekitarnya. Tanah berasap memiliki ukuran pasir, sedangkan tanah sekitarnya memiliki ukuran lempung dari endapan aluvial. “Dari segi warnanya juga berbeda, tanah berasap memiliki warna yang lebih hitam dan mengkilap,” ungkapnya.

Amien menjelaskan, fenomena tersebut tidak hanya sekali terjadi di Jawa Timur. Sebelumnya di kawasan Kutisari, Surabaya dan Sampang, Madura juga pernah mengalami kejadian serupa. “Memang secara alami daerah di Jawa Timur ini adalah cekungan minyak dan gas bumi,” papar dosen asal Jogjakarta ini.

Namun setelah diamati, Amien berpendapat, kemungkinan tanah berasap di daerah Dipo Sidotopo tersebut tidak berasal dari gas alam. Amien meyakini hal tersebut, lantaran asap yang keluar dinilai masih normal. “Asapnya tidak besar, jadi kemungkinan bukan dari gas alam,” jelasnya.

Melanjutkan hal tersebut, dosen lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menyampaikan, ada beberapa kemungkinan faktor penyebab fenomena tersebut. Kemungkinan pertama yaitu keberadaan sisa batubara yang dibuang di area Dipo Sidotopo. “Batu bara ini berasal dari bahan bakar kereta api zaman dahulu yang tersisa dan menumpuk sehingga keluar asap,” tutur dosen yang aktif meneliti masalah bencana ini.

Tak hanya itu, Amien menilai, kemarau yang panjang juga bisa menjadi faktor berikutnya. “Kemarau panjang ini semakin membuat tumpukan batubara membara dan mengeluarkan asap,” terangnya lagi.

Amien melanjutkan, faktor lainya yaitu adanya sampah dari beberapa tahun lalu yang sengaja dibuang ke area tersebut. Sampah-sampah ini kemudian memicu terbentuknya biomassa. “Biomassa inilah yang mungkin menyebabkan tanah tersebut berasap,” ujarnya.

Amien menyampaikan, sampai saat ini sampel tanah dari Dipo Sidotopo masih diteliti bersama dengan melibatkan beberapa dosen Departemen Teknik Geomatika dan juga DLH Kota Surabaya. Beliau berharap, survei ini dapat membantu memberi informasi kepada masyarakat sekitar, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi saat fenomena ini terulang kembali.

“Jangan terlalu panik, ini adalah fenomena yang sering dan lumrah terjadi,” pungkasnya menenangkan.(r7)

Loading...

baca juga