Jakarta,(DOC) – Wall Street tengah bersiap menghadapi benturan besar antara perusahaan kripto dan raksasa keuangan tradisional. Taruhannya besar, yakni masa depan perdagangan saham.
Perusahaan kripto seperti Coinbase, Robinhood, dan Kraken ingin memasuki pasar saham senilai US$ 62 triliun dengan menawarkan versi “tokenisasi” dari saham seperti Apple, Tesla, dan JPMorgan. Dengan cara ini, saham bisa di perdagangkan murah, 24 jam sehari, di seluruh dunia, tak terbatas jam bursa resmi.
Langkah ini memicu kemungkinan perombakan besar aturan perdagangan saham AS. Jika berhasil, perusahaan kripto bisa sejajar dengan pemain besar Wall Street.
Dorongan besar datang dari Presiden Donald Trump, yang kini kembali ke Gedung Putih dan secara terbuka mendukung kripto. Ia menempatkan tokoh pro-kripto di posisi regulator penting, memicu lonjakan harga token, dan menumbuhkan optimisme industri.
Perlawanan Kubu Tradisional
Namun, kubu keuangan tradisional melawan. Mereka mendesak Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) agar pemain baru mengikuti aturan yang sama, termasuk kewajiban registrasi dan perlindungan investor. Meski begitu, beberapa pihak mulai membuka pintu untuk kripto.
Tyler Gellasch, mantan pejabat SEC, mengingatkan bahwa perdebatan ini bukan sekadar soal kripto.
“Ini tentang aturan pasar saham itu sendiri,” ungkap Gellasch.
Jika kubu tradisional menang, saham tokenisasi akan di atur sama seperti saham biasa. Tetapi jika perusahaan kripto mendapat kelonggaran, pasar bisa terpecah menjadi dua sistem yakni saham konvensional dan versi tokenisasi. Kritikus khawatir kondisi ini akan memicu volatilitas.
Saham Tokenisasi
Konsep tokenisasi sendiri adalah menempatkan aset seperti saham ke dalam blockchain. Pendukungnya percaya teknologi ini akan menggantikan infrastruktur pasar keuangan lama.
“Sepuluh tahun lagi, kita tak akan menyebutnya saham tokenisasi. Itu akan menjadi standar,” kata Don Wilson, CEO DRW.
Sejauh ini, Coinbase dan beberapa perusahaan lain sedang meminta restu SEC. Robinhood dan Kraken memilih fokus ke pasar luar negeri sambil menunggu kejelasan hukum di AS.
Raksasa seperti Citadel Securities menolak aturan khusus untuk kripto. Mereka menegaskan bahwa saham tokenisasi seharusnya tunduk pada regulasi yang sama.
“Mengatur produk yang sama dengan aturan berbeda hanya karena teknologinya beda, itu tidak masuk akal,” ujar Kenneth Bentsen Jr., CEO SIFMA.
Meski begitu, SEC memberi sinyal terbuka. Ketua SEC Paul Atkins mengatakan pihaknya siap memberikan kelonggaran “agar Amerika tidak tertinggal” dan mengisyaratkan kemungkinan pembaruan besar aturan perdagangan saham.
Bagi industri kripto, peluang ini sangat besar. Diogo Mónica dari Haun Ventures yakin kekuatan Wall Street akan berkurang. Apalagi, bulan lalu Trump menandatangani undang-undang yang memberi kerangka regulasi bagi stablecoin.
Tetapi menggoyang dominasi Wall Street tidak mudah. Perusahaan keuangan tradisional punya kemampuan beradaptasi, modal besar, dan bisa masuk ke kripto melalui akuisisi. BlackRock, misalnya, sudah ikut terjun ke tokenisasi.
Pertanyaannya, apakah investor mau beralih ke saham versi blockchain? Data The Fed menunjukkan, pada 2024 hanya 8 persen warga AS yang pernah menggunakan kripto. Angka ini merupakan penurunan dari 10 persen dua tahun sebelumnya. (r6)





