
Surabaya, (DOC) – Peringatan 30 tahun tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli) di Posko Pandegiling, Surabaya, Jumat (24/7/2026), berubah menjadi mimbar peringatan keras bagi penguasa saat ini. Momentum bersejarah yang menjadi titik awal tumbangnya rezim otoriter itu dimanfaatkan untuk mengingatkan pemerintah agar tidak kembali membungkam kebebasan berekspresi dan kritik rakyat.
Cucu Presiden pertama RI, Puti Guntur Soekarno, menegaskan bahwa Kudatuli bukan sekadar catatan kelam masa lalu, melainkan alarm keras bagi perjalanan demokrasi Indonesia hari ini dan masa depan. Menurutnya, dinamika politik saat ini perlu dicermati agar Indonesia tidak terperosok kembali ke era kegelapan.
“Kita memperingati bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tetapi juga merefleksikan hari ini dan masa depan. Jangan sampai suasana ketika demokrasi dibungkam dan kekuasaan berjalan secara otoriter terulang kembali,” tegas Puti di hadapan para pejuang demokrasi lintas daerah.
Puti mengingatkan, Posko Pandegiling di Surabaya merupakan saksi bisu bagaimana arus perlawanan rakyat lahir dari pembungkaman negara. Dari tempat inilah konsolidasi pendukung Megawati Soekarnoputri membesar hingga memicu gelombang Reformasi 1998. Ia pun meminta generasi muda untuk tidak takut dan terus menyuarakan politik yang beretika serta berkeadaban.
“Senada dengan Puti, Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, melayangkan pesan terbuka kepada para pemegang kekuasaan. Ia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi dan menyampaikan kritik adalah amanat konstitusi yang dibayar mahal dengan darah serta air mata para pejuang demokrasi.
“Kami ingin mengingatkan kepada siapa pun, terutama penguasa, bahwa kejadian seperti ini jangan pernah terulang lagi. Demokrasi yang kita nikmati hari ini dibayar mahal. Karena itu, kita punya tanggung jawab memastikan pembungkaman terhadap suara rakyat tidak terjadi lagi,” kata Bonnie.
Ia juga berpesan kepada Generasi Z agar menjadikan sejarah Kudatuli sebagai pelajaran penting dalam berpolitik.
“Berpolitik itu membangun kualitas kemanusiaan. Ketika nanti dipercaya memimpin, jangan mengulangi apa yang dulu pernah dilakukan penguasa terhadap rakyat yang menyampaikan kritik,” tambahnya.
Sementara itu, Panitia Nasional Peringatan 30 Tahun Kudatuli, Setiawan, menyebut peristiwa 27 Juli 1996 sebagai kick-off lahirnya demokrasi modern di Indonesia.
Surabaya dipilih sebagai lokasi pergerakan karena memiliki rekam jejak historis yang kuat dalam menumbangkan otoritarianisme.
Peringatan di Posko Pandegiling ini diisi dengan mimbar demokrasi, pameran foto sejarah, dan konsolidasi pejuang lintas daerah. Acara tersebut menjadi pembuka dari rangkaian kegiatan nasional yang nantinya bakal berpuncak pada peresmian Monumen Kudatuli di Jakarta pada 27 Juli mendatang.





