
Surabaya,(DOC) – Kota Surabaya kembali mengukir prestasi di tingkat dunia. Surabaya terpilih sebagai satu dari 50 finalis dalam Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge 2025. Kompetisi ini menilai solusi kreatif dari kota-kota global untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
Surabaya mengusung inovasi penggunaan popok kain pakai ulang. Ide ini muncul untuk menjawab persoalan limbah popok sekali pakai yang mencemari sungai dan membebani tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa popok sekali pakai mengandung bahan berbahaya. Jika dibuang ke sungai, zatnya bisa mencemari air yang digunakan sebagai sumber air minum warga.
“Inisiatif ini tak hanya soal mengganti popok, tapi juga menjaga kebersihan sungai, meningkatkan kesehatan, dan menciptakan lapangan kerja,” kata Eri, Rabu (25/6/2025).
Ia juga mengimbau warga untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, seperti kantong dan botol, serta tidak membuang sampah ke sungai Brantas dan Kalimas.
Dapat Hibah USD 50.000
Sebagai finalis, Surabaya akan menerima hibah awal senilai USD 50.000. Dana ini digunakan untuk membuat prototipe popok kain lokal dan sistem distribusinya. Tim Pemkot juga akan mengikuti Ideas Camp pada Juli 2025. Di sana, mereka akan mengembangkan dan menguji ide bersama para pakar serta kota finalis lainnya.
Pada Januari 2026, Bloomberg akan memilih 25 kota dengan proposal terbaik. Kota terpilih akan menerima hibah lanjutan senilai USD 1 juta untuk menjalankan proyek secara penuh.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, Dedik Irianto, menekankan pentingnya mengurangi limbah popok dari sumbernya. Menurutnya, popok sekali pakai tidak bisa di daur ulang. Limbah ini hanya menumpuk di TPA dan mencemari lingkungan.
“Popok berbeda dari sampah plastik biasa. Materialnya kompleks dan berisiko menyebarkan penyakit,” ujar Dedik.
Surabaya Bersanding dengan Kota Dunia
Surabaya menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masuk dalam 50 besar. Beberapa kota finalis lainnya antara lain Barcelona (Spanyol), Seoul (Korea Selatan), Cape Town (Afrika Selatan), Toronto (Kanada), dan San Francisco (Amerika Serikat).
James Anderson, Kepala Program Inovasi Pemerintahan Bloomberg Philanthropies, menilai ide dari Surabaya sebagai inovasi yang orisinal dan berdampak besar. Menurutnya, solusi ini tidak hanya teknis, tapi juga mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
“Inovasi di tingkat kota bukan soal alat yang sempurna, tapi keberanian menyelesaikan masalah sulit dengan sumber daya terbatas,” ungkap James.(r7)





