Lumajang,(DOC) – Sebanyak 9.000 ton gula hasil panen petani tebu di Kabupaten Lumajang belum terserap pasar. Kondisi ini membuat gudang Pabrik Gula (PG) Jatiroto penuh dan mengancam keberlangsungan usaha petani.
Manager Keuangan dan Umum PT SGN PG Jatiroto, Apit Eko Prihantono, menjelaskan persoalan tidak hanya pada gula, tetapi juga produk sampingan seperti molasses atau tetes tebu.
“Saat ini harga gula di tingkat petani tidak laku, penyerapan terhambat sehingga gudang gula kita penuh. Untuk gula petani yang belum laku jumlahnya sekitar 9.000 ton, sedangkan gudang berkapasitas 59.500 ton sudah terisi 45.000 ton,” ujar Apit, Rabu (3/9/2025).
Ia menuturkan, kondisi ini berdampak serius. Pertama, gudang PG Jatiroto nyaris penuh sehingga menyulitkan proses penyimpanan. Kedua, petani kekurangan modal untuk merawat tebu jelang musim tanam 2025/2026.
“Petani merasa kesusahan karena tidak ada uang untuk merawat tebunya. Padahal perawatan tanaman tebu membutuhkan biaya besar,” imbuhnya.
Pemerintah sebenarnya sudah berupaya membantu penyerapan gula petani melalui Danantara dengan menunjuk ID Food dan SGN. Berdasarkan data, ID Food menyerap 5.500 ton, sedangkan SGN 1.000 ton. Namun seluruh gula itu masih tersimpan di gudang PG Jatiroto.
“Total penyerapan sekitar 6.500 ton, tetapi masih belum mencukupi untuk mengurangi timbunan gula petani yang mencapai 9.000 ton,” terangnya.
Apit menilai kondisi ini tak lepas dari kebijakan impor gula rafinasi. Banyak gula rafinasi yang seharusnya untuk industri makanan dan minuman justru bocor ke pasar konsumsi.
“Dampaknya jelas dari kebijakan impor gula rafinasi. Kuotanya terlalu banyak dan banyak yang bocor ke pasar konsumsi, sehingga gula petani kalah bersaing,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah lebih serius memproteksi petani gula dalam negeri dengan membatasi kuota impor rafinasi agar harga gula tetap stabil.
“Kalau impor dibatasi dan benar-benar diawasi, petani akan lebih terproteksi dan harga gula dalam negeri bisa lebih stabil,” pungkas Apit.(r7)





