Surabaya,(DOC) – Komunitas Pemuda Kali Tebu (Pekat) bersama Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menggelar aksi pengangkatan sampah plastik di aliran Kali Tebu, Surabaya, Senin (11/5/2026). Gerakan ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan “Kali Tebu Moncer”, sungai bersih yang diharapkan menjadi sarana wisata dan ruang publik warga.
Ketua Pekat, Muhammad Isomudin, mengatakan aksi tersebut lahir dari kepedulian anak muda Surabaya terhadap kondisi sungai yang di penuhi sampah plastik. Sebagai warga Surabaya Utara, ia ingin Kali Tebu kembali bersih dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Sebagai warga Suroboyo kami terpanggil untuk ikut mewujudkan sungai-sungai di Surabaya bebas sampah plastik. Karena itu, saya ingin ada aksi nyata membersihkan Kali Tebu,” ujar Isomudin.
Libatkan Mahasiswa dan Warga
Dalam kegiatan tersebut, Pekat melibatkan sekitar 25 relawan. Mereka berasal dari mahasiswa Ilmu Kelautan UINSA, Jurusan Biologi Unesa, serta relawan Ecoton.
Sebelumnya, tim memasang alat penjaring sampah “Barakuda” di Kali Tebu pada Minggu (10/5/2026). Setelah itu, relawan bersama warga Platuk Donomulyo Utara, Kelurahan Sidotopo Wetan, langsung melakukan penirisan dan evakuasi sampah hasil tangkapan.
Selain mengangkat sampah, relawan juga memilah jenis limbah yang terbawa arus sungai. Mereka menemukan plastik sekali pakai, styrofoam, kemasan makanan, hingga limbah rumah tangga dari kawasan permukiman padat.
Pemkot Siapkan Langkah Lanjutan
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, M. Fikser, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Menurut dia, persoalan sampah sungai sudah menjadi masalah serius sehingga membutuhkan keterlibatan pemerintah secara berkelanjutan.
“Pekerjaan yang dilakukan Ecoton dan Pekat tentu ada batas waktunya. Namun, yang paling penting bagaimana pemerintah kota dapat menindaklanjuti gerakan ini menjadi kebijakan dan kerja jangka panjang,” kata Fikser.
Karena itu, Pemkot Surabaya kini menyiapkan sejumlah langkah lanjutan untuk mengurangi sampah di Kali Tebu. Salah satunya, pemerintah akan memasang penahan sampah di setiap RW yang di lintasi aliran sungai.
“Selama ini warga di hilir sering disalahkan karena sampah menumpuk. Oleh sebab itu, kami akan memasang penahan sampah di tiap RW yang di aliri Kali Tebu,” ujarnya.
Selain memasang penahan sampah, Pemkot Surabaya juga mendorong penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait pengelolaan dan perlindungan Kali Tebu. Regulasi itu nantinya menjadi dasar pengendalian pencemaran sungai sekaligus memperkuat tanggung jawab lintas wilayah.
Barakuda Dipasang Permanen
Sementara itu, Manager Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, menjelaskan bahwa tim memasang alat Barakuda secara permanen di Kali Tebu. Selain itu, tim juga akan melakukan penirisan sampah setiap dua hari sekali.
“Setelah penirisan, kami akan melakukan brand audit untuk mengidentifikasi sumber sampah plastik. Lokasinya di TPS3R Kedung Cowek, Bulak,” jelas Amir.
Program MOZAIK sendiri merupakan inisiatif kolaboratif yang fokus pada pemulihan sungai melalui pemantauan sampah, edukasi masyarakat, dan advokasi kebijakan lingkungan. Melalui pemasangan Barakuda, tim berharap dapat memetakan sumber pencemaran sekaligus menekan aliran sampah plastik menuju laut.
Di sisi lain, mahasiswa Jurusan Biologi Unesa, Ladya Dwi Kurnia Putri, mengaku prihatin melihat kondisi Kali Tebu yang di penuhi sampah plastik. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat berhenti membuang sampah ke sungai.
Hal senada juga disampaikan mahasiswa Biologi Unesa lainnya, Muhammad Rofiul Ihsan. Ia menyebut Kali Tebu kini telah tercemar mikroplastik sehingga membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.
“Masyarakat harus lebih menghargai sungai dan tidak memperlakukan sungai sebagai tempat sampah. Selain itu, pemerintah juga harus menyediakan sarana tempat sampah yang memadai,” pungkasnya.(r7)





