Solar Dibatasi Rp300 Ribu, Sopir Truk di Lumajang Mengantre Berjam-jam

Solar Dibatasi Rp300 Ribu, Sopir Truk di Lumajang Mengantre Berjam-jam
Antrean di SPBU Lumajang imbas solar dibatasi. (Foto:Ist)

Lumajang, (DOC) – Antrean panjang kendaraan angkutan barang terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sukodono, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jumat (26/6/2026).

Puluhan truk pengangkut tebu, truk pasir hingga kendaraan trailer mengular sejak siang untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Bio Solar.

Bacaan Lainnya

Pantauan di lokasi menunjukkan antrean kendaraan memanjang hingga ke Jalan Soekarno-Hatta.

Kondisi tersebut sempat memicu kepadatan arus lalu lintas karena kendaraan dari arah selatan harus menyeberang menuju SPBU.

Sejumlah truk bahkan terpaksa berhenti di bahu jalan sambil menunggu giliran mengisi BBM.

Salah seorang sopir truk tebu, Riko, mengaku harus mengantre hampir dua jam untuk mendapatkan solar bersubsidi.

“Saya mulai antre sekitar pukul 12.30 WIB, baru bisa mengisi solar sekitar pukul 14.30 WIB,” katanya.

Menurut Riko, pembelian solar di SPBU dibatasi maksimal Rp300 ribu untuk setiap kendaraan. Jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan perjalanan.

“Kalau isi Rp300 ribu tidak sampai penuh. Untuk perjalanan ke Banyuwangi tidak cukup, paling sampai Jember harus isi lagi. Kalau di Jember juga antre, ya tambah terlambat lagi,” ujarnya.

Ia menjelaskan keterlambatan mendapatkan BBM berdampak langsung terhadap aktivitas distribusi tebu menuju sejumlah daerah, seperti Banyuwangi, Lamongan, Blitar, hingga Malang.

“Kalau antreannya lama seperti ini, otomatis pengiriman tebu juga ikut terlambat,” imbuhnya.

Riko menambahkan, tidak setiap hari dirinya bisa mendapatkan solar dengan mudah karena harus bergantung pada kondisi antrean di SPBU.

“Kalau mau antre lama ya dapat. Tapi memang tidak setiap hari mudah mendapatkan solar,” ucapnya.

Sementara itu, sopir truk pasir asal Kecamatan Pasirian, Wahyudi, mengaku terpaksa mencari solar hingga ke SPBU Sukodono setelah stok di SPBU Pasirian habis.

“Saya sampai di SPBU Pasirian sekitar pukul 12.00 WIB, tapi solar sudah habis. Akhirnya harus ke Sukodono,” katanya.

Baca Juga:  Pemkab Lumajang Fokus Perbaikan Tanggul Sungai Regoyo

Perjalanan dari Pasirian menuju Sukodono yang mencapai puluhan kilometer menambah biaya operasional dan waktu kerja.

Menurut Wahyudi, kesulitan mendapatkan solar sudah berlangsung selama dua hari terakhir sehingga aktivitas mengangkut pasir praktis terhenti.

“Sudah dua hari tidak bisa mengangkut pasir karena susah cari solar,” ujarnya.

Akibat tidak bisa beroperasi, Wahyudi mengaku kehilangan pendapatan yang biasanya mencapai sekitar Rp200 ribu per hari.

“Kalau dua hari tidak jalan, berarti sekitar Rp400 ribu pendapatan hilang,” ungkapnya.

Pos terkait