
Surabaya, (DOC) – Memasuki musim libur sekolah sekaligus tahun ajaran baru, emas kembali menjadi instrumen investasi favorit masyarakat. Alih-alih membeli, warga di Surabaya justru berbondong-bondong mendatangi toko emas untuk menjual aset mereka demi memenuhi kebutuhan biaya pendidikan anak yang mendesak.
Meski harga emas Antam dilaporkan mengalami penurunan dari level tertingginya dan kini berada di kisaran Rp 2,6 juta per gram, hal tersebut tidak menyurutkan niat warga untuk melakukan aksi jual. Bagi para orang tua, mencairkan tabungan jangka panjang ini menjadi jurus paling aman untuk mengamankan bangku sekolah anak.
Pantauan di sejumlah pusat pertokoan emas di kawasan Kalirungkut, Pasar Blauran, hingga Royal Plaza menunjukkan peningkatan aktivitas penjualan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Mayoritas pengantre didominasi oleh ibu-ibu yang membawa serta anak mereka. Salah satunya adalah Masrukah (43), warga Jambangan. Ia mengungkapkan bahwa emas memang menjadi pilihan investasi utamanya karena sifatnya yang likuid atau mudah dicairkan kapan saja.
“Memang dari awal saya membeli emas untuk berjaga-jaga kalau ada kebutuhan mendesak seperti ini. Saat daftar ulang anak bersamaan, emas ini bisa dijual untuk membantu biaya sekolah,” ujarnya saat ditemui di kawasan Kalirungkut, Sabtu (27/6/2026).
Setali tiga uang, Ayu Puspita (32), warga Manukan, juga memilih menjual perhiasannya sebagai jalan keluar instan. Langkah ini diambil demi menghindari skema pinjaman yang berisiko memberatkan keuangan keluarga di masa depan.
“Kalau pinjaman online kan berat. Untung masih punya tabungan emas, jadi bisa membantu biaya daftar ulang anak yang masuk sekolah dasar,” katanya.
Fenomena ini menegaskan bahwa emas masih dipercaya sebagai penyelamat finansial instan bagi masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Dosen Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Dina Anggraeni, menilai emas belum tergantikan sebagai instrumen investasi favorit karena kemudahannya untuk dicairkan (highly liquid).
“Investasi emas sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak dulu. Emas mudah dijual sehingga sering menjadi penyelamat saat membutuhkan dana cepat, termasuk untuk biaya pendidikan anak,” jelas Dina sapaan akrabnya.
Menurut Dina, pengeluaran awal tahun ajaran baru mulai dari uang daftar ulang, seragam, hingga buku sekolah sering kali datang dalam waktu yang bersamaan dan menyedot dana yang tak sedikit. Memilih mencairkan emas jauh lebih bijak daripada terjebak dalam skema utang.
“Karena itu, menjual perhiasan emas untuk membayar biaya sekolah sudah menjadi fenomena yang cukup sering kita temui di masyarakat,” pungkasnya.





