
Surabaya, (DOC) – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Provinsi Jawa Timur melaporkan progres positif dari operasional 530 Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang diresmikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Gelombang pertama gerai koperasi yang tersebar di delapan kabupaten/kota tersebut kini sukses mencetak omzet hingga belasan juta rupiah per hari.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, menyatakan bahwa fokus utama Pemprov saat ini adalah melakukan pendampingan ketat guna memastikan seluruh unit perdana tersebut berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Yang sudah beroperasi sesuai peresmian Presiden Prabowo jumlahnya 530 koperasi di delapan kabupaten/kota. Sekarang fokus kami memastikan seluruh operasionalnya berjalan sesuai standar,” kata Endy di Surabaya, Rabu (1/7/2026).
Endy menambahkan, performa awal ratusan koperasi ini menunjukkan tren yang sangat menggembirakan. “Progresnya sangat positif, dan ada yang sudah memiliki omzet belasan juta. Sejauh ini mayoritas memang menjual bahan pokok dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET),” terangnya.
Performa impresif ini merupakan bagian dari megaproyek penguatan ekonomi perdesaan di Jawa Timur. Saat ini, total ada sekitar 5.600 unit KDKMP yang masuk dalam rencana pembangunan.
Sebanyak 2.500 hingga 3.000 unit di antaranya telah rampung secara fisik dan kini tengah mengantre penyempurnaan sistem digital serta utilitas sebelum dibuka untuk umum.
Untuk menjaga konsistensi pelayanan, Diskop UKM Jatim rutin melakukan evaluasi berkala di lapangan. Pengawasan ketat meliputi kesiapan manajemen kasir, jam pelayanan, hingga percepatan input ribuan jenis produk ke dalam sistem administrasi barang.
“Kami memastikan SOP dijalankan. Jam buka, jam tutup, kesiapan pegawai, semuanya kami cek agar pelayanan kepada masyarakat optimal,” ujar Endy.
Dalam rantai pasoknya, keberhasilan operasional KDKMP disokong penuh oleh PT Agrinas selaku mitra penyedia kebutuhan pokok strategis. Saat ini, perputaran omzet terbesar masih didominasi oleh komoditas pangan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, dan LPG, di samping produk sekunder rumah tangga lainnya.
Endy menegaskan, kehadiran KDKMP bukan dibentuk untuk mematikan atau bersaing langsung dengan jaringan ritel modern raksasa. Perbedaan mendasar terletak pada asas kepemilikan, di mana KDKMP dimiliki sepenuhnya oleh warga desa atau kelurahan setempat melalui sistem bagi hasil ekonomi makmur.
“KDKMP fokus memastikan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga sesuai HET. Ini menjadi jaminan bagi masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah,” jelasnya.
Ke depan, fungsi KDKMP tidak hanya akan mandek sebagai toko kelontong desa. Para calon manajer koperasi yang saat ini tengah menjalani pelatihan intensif diarahkan untuk mengembangkan sayap bisnis baru berbasis potensi komoditas lokal setempat.
Beberapa di antaranya seperti optimalisasi sektor pertanian, sayur-mayur, hingga peternakan telur rakyat. “Setiap daerah memiliki karakter usaha berbeda. Manajer nanti akan mengembangkan koperasi berdasarkan potensi ekonomi lokal sehingga koperasi tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga pusat penggerak ekonomi desa,” pungkas Endy.





