
Surabaya, (DOC) – Selama ini, kurikulum pendidikan vokasi kerap dianggap berjalan di tempat, sementara dunia industri terus berkembang. Oleh karena itu, sering terjadi
skill mismatch kondisi di mana lulusan sekolah tidak siap lantaran apa yang dipelajari di kelas berbeda dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Mencoba mendobrak pola lama tersebut, Swiss Foundation for Technical Cooperation (Swisscontact) berkolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur serta Kadin Institute menggelar pelatihan fasilitator Job and Occupational Analysis (JOA) di Surabaya, 29 Juni hingga 3 Juli 2026. Langkah ini dirancang untuk membalik total logika penyusunan kurikulum vokasi di Indonesia.
Senior Program Officer VET Development Swisscontact, Ilham Hasbiullah, menggarisbawahi bahwa akar masalah skill mismatch adalah kebiasaan institusi pendidikan yang merancang kurikulum sendiri, baru kemudian menyetorkannya ke industri untuk sekadar dikonsultasikan.
“Kalau kita ingin mengurangi skill mismatch, prosesnya harus dibalik. Analisis pekerjaan dilakukan terlebih dahulu di industri, kemudian hasilnya diterjemahkan menjadi kurikulum. Jadi kurikulum benar-benar lahir dari kebutuhan industri,” tegas Ilham di Surabaya, Sabtu (4/7/2026).
Melalui metode JOA, para fasilitator baru ini dilatih untuk memetakan anatomi sebuah pekerjaan secara presisi, meliputi tugas, tanggung jawab, dan kompetensi riil di lapangan, serta dibekali tren perkembangan profesi di masa depan.
Dokumen JOA ini nantinya akan menjadi pedoman baru bagi SMK, perguruan tinggi, hingga lembaga pelatihan kerja dalam menyusun materi ajar.
Selain itu, metode ini memperjelas porsi Dual System (sistem pembelajaran ganda): materi apa yang cukup diselesaikan di ruang kelas, dan kompetensi apa yang wajib dikuasai langsung lewat praktik di lantai pabrik.
Menanggapi hal ini, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengakui adanya tantangan besar dalam birokrasi pendidikan. Perkembangan teknologi informasi di industri berubah dalam hitungan bulan, sementara revisi kurikulum formal sering kali memakan waktu bertahun-tahun. Di sinilah pentingnya peran fasilitator JOA sebagai jembatan hidup antara sekolah dan perusahaan.
“Kebutuhan industri berkembang sangat cepat, sementara perubahan kurikulum membutuhkan waktu. Karena itu, pendampingan melalui fasilitator JOA menjadi solusi agar kurikulum tetap relevan dengan perkembangan dunia industri,” ujar Adik.
Dengan harmonisasi ini, perusahaan akan semakin yakin saat merekrut lulusan, dan program magang mahasiswa/siswa bisa berjalan jauh lebih efektif karena target kompetensinya sudah klop sejak awal.
Pada angkatan pertama ini, pelatihan JOA diikuti oleh 10 peserta terpilih yang mengombinasikan unsur industri, akademisi, dan pemerintah. Selama lima hari, mereka digembleng dengan metode investigasi informasi dari praktisi hingga simulasi fasilitasi.
Hingga saat ini, Swisscontact sendiri telah merampungkan sekitar 80 analisis JOA di berbagai sektor bersama Kementerian Perindustrian. Namun, kolaborasi bersama Kadin Jatim ini menjadi tonggak sejarah baru karena untuk pertama kalinya metode ini diintegrasikan langsung di bawah payung organisasi pengusaha.
Kadin Jatim pun langsung memasang target agresif untuk menguji taji para fasilitator baru ini.“Kami menargetkan setiap fasilitator mampu mendampingi sedikitnya 10 perusahaan bersama mitra pendidikannya. Dengan 10 fasilitator angkatan pertama ini, kami optimistis sekitar 100 industri dapat dijangkau pada tahap awal sebelum program diperluas ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur,” pungkas Adik.





