Pakar Unair Sebut Anjloknya Pasar Modal Momentum ‘Bersih-Bersih’ dan Pulihkan Kepercayaan Investor

Pakar Unair Sebut Anjloknya Pasar Modal Momentum 'Bersih-Bersih' dan Pulihkan Kepercayaan Investor
Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair, Dr. Wisudanto. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Pergerakan Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG) yang bergejolak tajam menjadi alarm keras bagi pasar saham Indonesia.

Setelah sempat melonjak 132 persen dari titik terendah pandemi hingga menyentuh rekor 9.134,70 pada 20 Januari 2026, IHSG justru berbalik arah dan merosot sekitar 41 persen ke level 5.387,91 pada 22 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Tekanan hebat ini menguapkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Rp1.544 triliun hanya dalam sepekan (9–16 Oktober 2026).

Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Dr. Wisudanto, menegaskan bahwa koreksi tajam ini harus dijadikan momentum evaluasi total terhadap kualitas pasar modal Indonesia.

“Penurunan kapitalisasi pasar tidak serta-merta menunjukkan adanya arus keluar dana tunai sebesar itu, melainkan mencerminkan perubahan valuasi pasar,” ujar Wisudanto, Jumat (30/10/2026).

Ia menilai, lonjakan IHSG yang terlalu tinggi sebelumnya perlu diuji kembali apakah sejalan dengan fundamental perusahaan, seperti pertumbuhan laba, arus kas, dan sektor riil yang tumbuh di kisaran 5 persen.

Meskipun koreksi pasar merupakan mekanisme wajar penyesuaian harga, Wisudanto mengingatkan agar masalah krusial seperti transparansi, independensi, kecukupan free float, hingga potensi kecurangan dalam perdagangan saham tidak diabaikan.

Ujian Ritel dan Fenomena Psikologis Pasar

Kondisi ini makin krusial mengingat lonjakan jumlah investor pasar modal yang masif, dari 3,88 juta Single Investor Identification (SID) pada 2020 menjadi 31,9 juta SID per September 2026.

Wisudanto menyoroti pentingnya edukasi risiko agar investor ritel tidak terjebak dalam loss aversion(ketakutan berlebih akan kerugian) dan herding behavior (ikut-ikutan keputusan mayoritas) yang berisiko memicu aksi jual panik.

“Investasi di pasar modal adalah proses jangka panjang, bukan penilaian satu atau dua hari. Investor perlu memiliki pemahaman mendalam agar tidak mengambil keputusan emosional saat pasar tertekan,” jelasnya.

Baca Juga:  Sinyal Pemangkasan Suku Bunga Amerika Dorong Sentimen Positif IHSG

Dampak Sektoral dan Kebutuhan Reformasi

Anjloknya pasar modal memberikan dampak berbeda bagi pelaku ekonomi. Bagi emiten, penurunan harga saham berpotensi meningkatkan cost of equity dan membebani pendanaan.

Sementara untuk sektor perbankan yang menguasai sekitar 26 persen kapitalisasi pasar per September 2026 Wisudanto menekankan bahwa kesehatan industri tetap diukur dari kualitas kredit, kecukupan modal, profitabilitas, dan likuiditas, bukan sekadar pergerakan harga saham.

Adapun dampak terhadap UMKM relatif tidak langsung karena masih dominan mengandalkan pembiayaan perbankan.

Di tengah ketidakpastian global dan gangguan rantai pasok energi, Wisudanto mendorong pemerintah, regulator, dan BEI untuk melakukan pembenahan menyeluruh melalui penguatan literasi, transparansi kepemilikan, pembentukan harga yang kredibel, serta penegakan hukum yang tegas.

“Penurunan ini adalah momentum introspeksi bagi semua pihak. Yang perlu dipulihkan bukan semata-mata angka indeks IHSG, melainkan kepercayaan investor terhadap kualitas pasar modal Indonesia. Pasar yang sehat adalah pasar yang memiliki tata kelola kuat, transparan, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Pos terkait