Surabaya,(DOC) – Momentum refleksi akhir tahun 2025 yang bertepatan dengan perayaan Natal dan menjelang Tahun Baru 2026 di manfaatkan untuk meneguhkan kembali nilai kebersamaan dan toleransi di Kota Surabaya.
Kader PDI Perjuangan Surabaya, Achmad Hidayat, menyampaikan bahwa dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara, ketidaksempurnaan serta kekhilafan adalah keniscayaan. Karena itu, refleksi diri yang jujur dan jernih menjadi kunci untuk memperbaiki keadaan ke depan.
“Semoga kasih sayang dan semangat Bhinneka Tunggal Ika senantiasa menjadi napas kehidupan warga Kota Surabaya. Mohon maaf apabila ada kekhilafan, semoga dapat segera di perbaiki,” ujar Achmad Hidayat, Selasa.
Ia menilai, sebagai kota megapolitan dengan latar belakang masyarakat yang beragam, Surabaya memikul tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam menjunjung tinggi toleransi dan harmoni sosial. Namun demikian, ia mengingatkan masih adanya persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
Salah satunya adalah polemik pelarangan pendirian rumah tinggal pendeta GPIB Benowo, meskipun Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di sebut telah di nyatakan lengkap. Menurutnya, kejadian tersebut tidak sejalan dengan semangat kebhinekaan dan jaminan konstitusional atas kebebasan beragama.
“Kita berharap ke depan hal-hal seperti ini tidak terulang lagi. Sebagai negara Pancasila, kebebasan beribadah di jamin dan di lindungi oleh konstitusi,” tegasnya.
Warisan Panjang Peradaban
Achmad Hidayat juga mengingatkan bahwa toleransi merupakan warisan panjang peradaban Nusantara. Sejak era Dinasti Sanjaya dan Syailendra, hingga Singasari dan Majapahit, keberagaman telah hidup berdampingan dan menjadi fondasi kuat bangsa Indonesia.
Menurutnya, setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat seharusnya di selesaikan melalui musyawarah mufakat demi menghadirkan kemaslahatan bersama. Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, semangat gotong royong dan dialog menjadi semakin penting untuk mencegah konflik horizontal dan gesekan antarwarga.
“Surabaya bukan milik seseorang, golongan, atau kelompok tertentu. Kota ini adalah milik seluruh Arek-Arek Suroboyo dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya,” imbuhnya.
Menutup pernyataannya, Achmad Hidayat mengingatkan pesan Soekarno agar sesama anak bangsa tidak saling berhadap-hadapan dan memusuhi satu sama lain hanya karena kepentingan sesaat.
“Persatuan dan keutuhan bangsa adalah fondasi utama yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (r6)





