Ajeng Wira Wati Dukung Pembangunan RS Baru Surabaya Selatan

Ajeng Wira Wati Dukung Pembangunan RS Baru Surabaya SelatanSurabaya,(DOC)Ajeng Wira Wati, Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) LKPJ DPRD Kota Surabaya sekaligus Ketua Fraksi Gerindra, menegaskan pentingnya pembangunan rumah sakit (RS) baru di Surabaya Selatan.

Langkah ini bukan hanya untuk pemerataan fasilitas kesehatan di seluruh kota. Tetapi juga merupakan bagian dari janji Walikota Eri Cahyadi selama kampanye yang ingin memastikan layanan kesehatan dapat di jangkau oleh seluruh warga Surabaya.

Bacaan Lainnya

“Pembangunan rumah sakit baru di Surabaya Selatan sangat penting. Ini bukan hanya soal pemerataan fasilitas. Tetapi juga bagian dari janji Wali Kota Eri Cahyadi untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat Surabaya. Kami ingin memastikan setiap warga, terutama yang tinggal di wilayah selatan. Tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan perawatan medis,” ujar Ajeng.

RS Eka Chandrarini (RS-EC), yang telah beroperasi sejak 2024 di Surabaya Timur. Bertahap memberikan dampak positif bagi masyarakat di daerah tersebut. Namun, dengan populasi yang terus berkembang dan kebutuhan layanan kesehatan yang semakin meningkat di wilayah selatan. Ajeng menegaskan perlunya rumah sakit baru yang dapat melayani lebih banyak warga dengan lebih efektif.

APBD 2025 telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 305 miliar untuk RS Surabaya Selatan. Dengan Feasibility Study (FS) yang telah di selesaikan untuk memastikan kelayakan proyek tersebut.

Selain RS Surabaya selatan, Ajeng juga menyoroti pentingnya renovasi Rumah Sakit Surabaya Utara yang akan mendapatkan anggaran sebesar Rp 220 miliar pada tahun 2026. Namun, ia menegaskan bahwa fokus utama adalah pada pembangunan RS baru di Surabaya Selatan, tepatnya di kawasan Karangpilang.

Anggota Komisi D DPRD kota Surabaya ini, juga menyebutkan bahwa saat ini, Bed Occupation Rate (BOR) di RS Soewandhie tercatat mencapai 85,93 persen. Ini menunjukkan bahwa rumah sakit di Surabaya sudah mulai kelebihan kapasitas. “Kami harus hati-hati dengan BOR yang terlalu besar, karena bisa mempengaruhi kualitas pelayanan. Kami ingin angka BOR di bawah 80 persen untuk memastikan rumah sakit bisa melayani masyarakat dengan baik,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Punya Kabinet Baru, Apa Itu?
RS Soewandhi dan RS BDH Penyedia Layanan BPJS Terbanyak di Surabaya

Di sisi lain, Ajeng mengungkapkan bahwa BPJS UHC (Universal Health Coverage) telah menganggarkan Rp 438 miliar. Untuk memastikan warga Surabaya dapat mengakses layanan kesehatan yang memadai. RS Soewandhie dan RS Bhakti Dharma Husada (RS-BDH), yang memiliki cakupan BPJS UHC sebesar 98 persen, masih menjadi penyedia layanan BPJS terbanyak di Kota ini.

Untuk memastikan efektivitas layanan di RS EC pada tahun 2025. Ajeng menekankan pentingnya pemenuhan alat kesehatan (alkes) dan sumber daya manusia (SDM) yang memadai. “Kami berharap RS EC di Surabaya Timur dapat beroperasi dengan optimal. Sementara RS baru di Surabaya Selatan dapat segera terwujud untuk memberikan layanan yang lebih merata bagi seluruh warga,” ujar Ajeng.

Pada hari Senin(21/4/2025) pekan depan, sambung Ajeng, Komisi D bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) membahas 23 puskesmas yang telah menyediakan layanan rawat inap dengan BOR 70-80 persen. Dengan anggaran UHC mencapai Rp 36 miliar per bulan, Ajeng berharap agar tidak ada warga Surabaya yang ditolak saat membutuhkan perawatan medis.

“Ke depan, kami ingin memastikan bahwa setiap warga Surabaya mendapatkan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas, dengan BOR rate di bawah 80 persen. Warga Surabaya tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan pengobatan, dan Surabaya siap menjadi tujuan Medical Tourism,” tutup Ajeng.(rob/r7)

Pos terkait