Ekraf Surabaya Tumbuh, 1.996 Pelaku Siap Melaju ke Level Dunia

Ekraf Surabaya Tumbuh, 1.996 Pelaku Siap Melaju ke Level Dunia

Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat fondasi ekonomi kreatif sebagai bagian dari langkah strategis menuju predikat Kota Kreatif Dunia (UNESCO Creative City). Komitmen tersebut di tegaskan dalam forum Creative Dialogue: Surabaya dalam Kartografi Kreatif yang di gelar di Universitas Ciputra (UC), Kamis (4/12/2025).

Bacaan Lainnya

Kepala Bappendalitbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajat, memaparkan bahwa Surabaya saat ini memiliki 1.996 pelaku ekonomi kreatif yang tersebar dalam empat sektor utama: kuliner (gastronomi), fashion, seni pertunjukan, dan kriya.

“Kuliner menempati posisi tertinggi. Ketika turis domestik datang ke Surabaya, yang di cari adalah makanannya, seperti Rawon Setan dan Rujak Cinggur,” jelas Irvan.

Irvan menegaskan, percepatan menuju Kota Kreatif Dunia membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang di sebut Hepta Helix, pemerintah, pengusaha, akademisi, NGO, media, komunitas, dan konsumen. Setiap unsur memiliki peran penting untuk memastikan produk kreatif yang di hasilkan tepat sasaran dan memiliki pasar.

“Pemerintah berperan sebagai inisiator dan fasilitator, pengusaha menggerakkan produksi dan investasi, akademisi menjadi sumber inovasi dan teknologi, NGO dan komunitas sebagai agen promosi, dan konsumen menjadi elemen paling krusial dalam menentukan keberlanjutan pasar produk kreatif,” ujarnya.

Kartografi Kreatif

Untuk memperjelas potensi dan memudahkan wisatawan maupun investor, Irvan mengajak perguruan tinggi mengembangkan Kartografi Kreatif, yaitu peta spasial yang menampilkan pusat-pusat kreativitas kota. Misalnya untuk wisata kuliner, peta akan menunjukkan titik gastronomi unggulan; sementara untuk wisata pendidikan, peta akan memuat lokasi-lokasi institusi akademik.

Irvan juga mendorong perguruan tinggi, termasuk Universitas Ciputra, untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan kota. Pemkot menyediakan berbagai program kolaboratif seperti KKN berbasis solusi, di mana mahasiswa turun langsung ke kampung untuk mengidentifikasi masalah dan menawarkan inovasi. Selain itu, Pemkot juga bersiap membuka kembali Hi-Tech Mall sebagai ruang kreatif baru yang dapat di manfaatkan mahasiswa.

Baca Juga:  Balai Pemuda Disulap Jadi Ekosistem Kreatif Lewat Pameran ARTSUBS

Ia juga menyoroti tantangan perkembangan ekraf, salah satunya fenomena “aji mumpung” akibat kenaikan harga sewa properti di kawasan yang tengah dikembangkan seperti Kota Lama dan Jalan Tunjungan. Kondisi ini di nilai berpotensi menghambat pelaku ekraf baru untuk berkembang.

“Terkait hal ini, kami terbuka menerima masukan akademisi untuk penyempurnaan regulasi ke depan,” katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Ciputra, Wirawan Endro Dwi Radianto, menyambut baik ajakan kolaborasi Pemkot Surabaya. Ia menegaskan UC siap menjadi mitra strategis dalam mendorong inovasi.

“Kami siap menjadikan Surabaya sebagai laboratorium hidup untuk berkolaborasi, bereksperimen, dan melahirkan gagasan-gagasan kreatif,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait