
Lumajang, (DOC) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memetakan enam kecamatan yang berpotensi dilanda kekeringan selama musim kemarau 2026. Dari pemetaan tersebut, Kecamatan Gucialit dan Ranuyoso menjadi fokus utama penanganan karena tercatat sebagai wilayah langganan krisis air bersih paling parah dalam lima tahun terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengungkapkan bahwa Gucialit mendapat perhatian khusus karena selalu menjadi daerah dengan kebutuhan distribusi air bersih (dropping air) paling tinggi.
“Ada beberapa kecamatan yang selama ini selalu mengalami kekurangan air bersih. Ini kita mitigasi sejak awal agar ketika puncak musim kemarau datang, kebutuhan air masyarakat tetap tercukupi melalui tangki-tangki air yang kami miliki,” ujar Isnugroho, Sabtu (11/7/2026).
Selain Gucialit dan Ranuyoso, empat kecamatan lain yang masuk dalam radar rawan kekeringan adalah Padang, Klakah, Kedungjajang, dan Senduro. Secara total, terdapat 19 desa di enam kecamatan tersebut yang diprediksi akan kesulitan mengakses air bersih jika kemarau berlangsung panjang.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Lumajang saat ini tengah memverifikasi kondisi sumber air alternatif di desa-desa rawan, seperti sumur bor, mata air, dan fasilitas PAMSIMAS. Tak hanya krisis air, peningkatan kewaspadaan juga diarahkan pada potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pemukiman.
Isnugroho menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi ini membutuhkan peran aktif warga. Ia mengimbau masyarakat untuk segera melapor ke pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau langsung ke BPBD jika mulai kesulitan air atau melihat potensi kebakaran.
“Bencana akan lebih cepat tertangani apabila semua pihak bergerak bersama. Setelah laporan diterima, kami akan segera melakukan asesmen untuk menentukan penanganan di lapangan,” pungkasnya.





