
Surabaya, (DOC) – Dermatitis atopik atau eksim masih menjadi salah satu penyakit kulit kronis yang membayangi anak-anak. Sayangnya, banyak orang tua yang terlambat menyadari kondisinya. Padahal, deteksi dini dan penanganan sejak awal sangat krusial agar penyakit ini tidak sampai merusak kualitas tidur dan mengganggu tumbuh kembang harian anak.
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr. FX Clinton, Sp.DVE, menegaskan bahwa dermatitis atopik bukan sekadar masalah kulit kering biasa. Penyakit ini bersumber dari gangguan lapisan pelindung kulit (skin barrier) disertai peradangan yang membuat kulit menjadi sangat sensitif.
Pada kondisi ini terjadi gangguan pada skin barrier dan peradangan, sehingga kulit menjadi sangat sensitif dan tidak nyaman. Deteksi dini menjadi tantangan tersendiri, terutama pada anak yang belum mampu mengungkapkan keluhannya,” ujar dr. Clinton di Surabaya, Minggu (12/7/2026).
Melansir data American Academy of Dermatology, sekitar satu dari lima anak mengalami dermatitis atopik. Risiko ini melonjak drastis pada anak yang memiliki riwayat keluarga dengan alergi, asma, atau eksim. Oleh karena itu, orang tua dengan riwayat tersebut diminta lebih peka mengamati perubahan kulit anak sejak bayi.
Sementara itu, dokter spesialis anak dr. Fihzan Ginting, M.Ked(Ped), Sp.A, mengingatkan risiko besar di balik keterlambatan penanganan. Rasa gatal hebat yang dibiarkan tanpa penanganan dini tidak hanya merusak waktu istirahat anak, tetapi juga memicu perubahan suasana hati (mood), hingga mengganggu keharmonisan hubungan anak dan orang tua akibat stres.
Agar tidak terlambat, dr. Fihzan mengimbau orang tua untuk langsung waspada jika melihat gejala-gejala awal berikut pada anak, antara lain munculnya ruam kemerahan yang berulang, kulit tampak sangat kering dan kasar, dan bercak kemerahan di area spesifik seperti pipi, dahi, serta lipatan tangan dan kaki.
“Jika gejala awal ini muncul, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar diagnosis dan penanganan tepat bisa dilakukan sebelum kondisinya memburuk,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Fihzan menjelaskan bahwa dermatitis atopik dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan imun tubuh. Karena sifatnya yang kronis, langkah pencegahan kekambuhan harus dilakukan secara konsisten dengan menjaga kelembapan kulit setiap hari menggunakan pelembap khusus, menghindari pemicu lingkungan, seperti paparan suhu yang terlalu ekstrem (terlalu panas atau dingin), dan menggunakan produk perawatan yang diformulasikan khusus untuk kulit sensitif.
Ia juga menambahkan bahwa riset kedokteran terbaru menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan mikrobiom kulit. “Ketika ekosistem mikroorganisme di permukaan kulit terganggu, risiko peradangan akan meningkat dan bisa memperparah gejala dermatitis atopik yang dialami anak,” tandasnya.





