
Surabaya, (DOC) – Pakar Seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kadek Hendrawan Palgunadi, memperingatkan masyarakat dan tim relawan di kawasan terdampak gempa Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk tetap siaga terhadap ancaman gempa susulan (aftershock) hingga dua minggu ke depan.
Peringatan ini dikeluarkan menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif Flores Back-Arc Thrust struktur patahan yang juga pernah memicu gempa dahsyat serupa pada tahun 1992.
“Pascagempa utama M 7,7 kemarin, secara statistik akan ada minimal tiga kali gempa susulan dengan magnitudo di atas 6. Meskipun kekuatannya cenderung menurun seiring penyesuaian struktur patahan, potensinya tetap harus diwaspadai,” ujar Peneliti Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS, Rabu (19/8/2026).
Mengenai rentetan gempa yang terjadi hampir bersamaan di NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah, Kadek meluruskan bahwa ketiganya tidak saling terhubung secara langsung. Analisis menunjukkan masing-masing peristiwa berasal dari entitas tektonik dan sesar yang berbeda.
“Gempa beruntun antarwilayah yang saling memicu biasanya hanya terjadi jika bersumber dari gempa megathrust dengan magnitudo di atas 8. Jadi, kejadian di tiga lokasi tersebut lebih disebabkan oleh kompleksitas zona tektonik Indonesia,” jelasnya.
Menanggapi kondisi pascabencana, Kadek mengimbau masyarakat terdampak dan tim evakuasi untuk memastikan kelayakan fisik bangunan sebelum kembali menghuni rumah. Jika kondisi tempat tinggal mengalami keretakan yang mengkhawatirkan, warga disarankan bertahan sementara di lokasi pengungsian yang aman.
Edukasi dan respon mitigasi risiko bencana ini menjadi bagian dari komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-11, yakni mewujudkan kota dan komunitas yang berkelanjutan serta tangguh bencana.





