
Surabaya,(DOC) – Politisi Partai Gerindra Surabaya, AH Thony, mengecam keras dugaan gratifikasi senilai Rp3,6 miliar yang menyeret nama Ganjar Siswo Pramono, eks pejabat Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Surabaya. Ia menyebut kasus ini sebagai “kejahatan sadis” yang terjadi di tengah penderitaan rakyat saat pandemi.
Sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi DPC Partai Gerindra Surabaya sekaligus mantan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, menilai tindakan korupsi tersebut sangat mencederai nurani masyarakat, terutama karena terjadi saat kondisi keuangan daerah kritis pada tahun 2022.
“Ini bukan sekadar penyimpangan, tapi kejahatan kejam luar biasa. Di saat rakyat berjuang bertahan hidup, ada pejabat yang malah memperkaya diri. Kepala saya rasanya mau meledak,” ujar Thony, Jumat (13/6/2025).
Menurutnya, pada masa pandemi, Surabaya harus memangkas anggaran, membatalkan proyek rakyat, dan merealokasi APBD untuk penyelamatan kesehatan publik. Ia menyebut dugaan korupsi ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap amanah publik.
“Nama Ganjar Siswo muncul saat rakyat masih terluka. Ini bukan cuma tak etis, tapi juga tak berperikemanusiaan,” katanya geram.
Thony juga mendesak aparat penegak hukum untuk menyelidiki kasus dugaan gratifikasi eks pejabat PU. Apakah ada pihak lain yang terlibat atau berupaya menutupi kasus ini sebelumnya.
“Jangan hanya berhenti di Ganjar. Jika ada yang kecipratan atau memfasilitasi, bongkar semua! Ini bisa jadi kejahatan sistemik,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa Gerindra, sebagai partai yang mengusung semangat perubahan dan keberpihakan pada rakyat, berdiri tegas menolak segala bentuk korupsi, apalagi yang terjadi dalam kondisi darurat.
“Gerindra konsisten melawan korupsi. Ini soal keberanian membela kepentingan rakyat. Kami tak akan diam,” pungkas Thony.(r7)





