SMK Pertanian Didorong Kuasai Pasar Minyak Atsiri Dunia

SMK Pertanian Didorong Kuasai Pasar Minyak Atsiri Dunia
SMK Pertanian Didorong Kuasai Pasar Minyak Atsiri Dunia

Jakarta,(DOC) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, dan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKPLK), menggelar webinar bertajuk “Peluang Emas Bisnis dan Karier Siswa SMK di Industri Minyak Atsiri” pada Jumat (21/3). Tujuannya mendorong SMK pertanian untuk mengambil peran strategis dalam industri minyak atsiri nasional.

Sektor pertanian, terutama di daerah pedesaan, memegang peran vital dalam struktur ekonomi Indonesia. SMK pertanian di nilai memiliki potensi besar untuk menyiapkan lulusan yang kompeten dan inovatif, serta mampu mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

Bacaan Lainnya

Salah satu produk unggulan yang mendapat sorotan adalah minyak atsiri, khususnya minyak nilam. Indonesia kini menjadi produsen minyak atsiri terbesar ketiga di dunia, dengan ekspor minyak nilam mencapai 1.500 ton per tahun ke negara-negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Inggris, dan Swiss.

Dirjen Pendidikan Vokasi PKPLK, Tatang Muttaqin, menyatakan bahwa penguatan pendidikan vokasi sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang tertuang dalam Asta Cita. Pendidikan vokasi menjadi garda depan dalam menyiapkan SDM unggul dan berdaya saing, khususnya di sektor pertanian dan turunannya.

“Kita perlu mendorong agar hasil riset minyak nilam yang sudah maju bisa di dukung oleh produksi yang kuat dari SMK pertanian,” ujarnya.

Tatang menekankan pentingnya keterampilan yang dapat di konversi menjadi pendapatan. Ia mendorong SMK untuk menangkap peluang pasar dengan menyelaraskan kompetensi keahlian yang di miliki dengan kebutuhan industri.

“SMK harus mulai berpikir wirausaha. Produk inovatif dan hasil karya siswa harus bisa masuk pasar,” tegasnya.

Penguatan Peran SMK dan Kolaborasi Pentahelix

Senada dengan Tatang, Direktur SMK, Arie Wibowo Khurniawan, menilai bahwa sektor minyak atsiri—baik pasar domestik maupun global—masih sangat potensial. Indonesia, sebagai negara kaya biodiversitas, bisa menjadi pemain utama. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara SMK, dunia usaha dan industri (DUDI), serta perguruan tinggi.

Baca Juga:  SPMB 2025 Sudah Jalan di 232 Daerah, Pemerintah Kawal Ketat Sisanya

“Sinergi ini penting agar lulusan SMK benar-benar siap menghadapi tantangan global dan memberikan kontribusi nyata berbasis kearifan lokal,” kata Arie.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Marthunis, menambahkan bahwa pertanian menyumbang sepertiga struktur ekonomi Aceh pada 2024. Ia menyoroti keberhasilan perguruan tinggi di Aceh yang mengembangkan teaching factory (Tefa) nilam, dan berharap praktik ini bisa di replikasi oleh SMK pertanian.

“SMK punya potensi besar untuk mengembangkan komoditas ekspor seperti minyak nilam. Ini peluang besar yang harus di ambil,” tegasnya.

Syaifullah Muhammad, Direktur Utama Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala, memaparkan bahwa Indonesia memasok 90% kebutuhan minyak nilam dunia. Jika pasokan dari Indonesia berhenti selama enam bulan, industri parfum global bisa terganggu.

Menurutnya, dari 200 jenis minyak atsiri di dunia, 40 sudah di perdagangkan antarnegara. Nilam Aceh bahkan di nilai sebagai yang terbaik di dunia oleh mitra industri di Prancis.

“Untuk sukses di bisnis minyak atsiri, kita butuh kemitraan pentahelix: pendidikan, pemerintah, swasta, masyarakat, dan media. SMK tidak bisa jalan sendiri,” ujar Syaifullah.

Webinar ini di harapkan memantik semangat siswa SMK untuk terlibat aktif dalam industri minyak atsiri, baik sebagai tenaga kerja terampil maupun wirausahawan muda. Pendidikan vokasi diyakini dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi lokal dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. (r6)

Pos terkait