Surabaya,(DOC) – Jagat maya mendadak gaduh setelah akun Instagram @viralforjustice mengunggah sebuah video yang memicu perdebatan luas. Dalam tayangan itu, muncul klaim bahwa gerakan #forjustice “lahir di Surabaya” dan membawa misi mengembalikan hak, harkat, dan martabat orang Surabaya, khususnya orang Jawa.
Narasi tersebut sontak menimbulkan kegelisahan. Sebagian warganet melihatnya sebagai dukungan terhadap gerakan sosial, namun banyak pula yang menilai konten itu berbahaya karena berpotensi memecah belah masyarakat. Kekhawatiran makin besar ketika video itu menyebar cepat melalui berbagai grup WhatsApp, memunculkan diskusi soal ancaman isu SARA yang dapat mengganggu kerukunan warga.
Organisasi pemuda legendaris Kota Pahlawan, Putra Surabaya (Pusura), akhirnya memberi tanggapan. Organisasi yang berdiri sejak 1936 itu menegaskan bahwa Surabaya adalah rumah bagi semua warga tanpa memandang asal suku.
Ketua Pusura Surabaya, Hoslih Abdullah atau Cak Dullah, menyampaikan sikap tegasnya. Ia menekankan bahwa siapa pun yang tinggal di Surabaya, maka ia adalah bagian dari Surabaya. Tidak ada alasan untuk membedakan Jawa, Madura, atau kelompok lain.
Menurutnya, narasi dalam video tersebut bisa menimbulkan gesekan horizontal jika tidak segera di luruskan. Ia berharap Surabaya tetap aman, nyaman, dan menjadi kota yang menjunjung keberagaman. Ia bahkan mengingatkan bahwa Forum Pembauran Kebangsaan telah memfasilitasi setidaknya 27 suku yang hidup berdampingan tanpa konflik.
Merespons dinamika yang berkembang, Cak Dullah memastikan persoalan ini akan di bawa ke forum resmi agar tidak menjadi isu liar. Langkah ini di anggap penting untuk mencegah kesalahpahaman yang berpotensi memunculkan provokasi.
Sementara gelombang komentar warganet terus mengalir, publik menunggu langkah lanjutan dari pihak terkait. Harapannya, Surabaya tetap kondusif, rukun, dan terhindar dari narasi yang dapat menyulut isu SARA. (r6)





