WHO: Bunuh Diri Jadi Penyebab Kematian Tertinggi Ketiga Remaja Dunia

 

WHO: Bunuh Diri Jadi Penyebab Kematian Tertinggi Ketiga Remaja Dunia

Bacaan Lainnya

Jakarta,(DOC) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data mengejutkan, yakni bunuh diri kini menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di kalangan remaja dan dewasa muda usia 15–29 tahun secara global.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak usia 10–19 tahun (14 persen) mengalami gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, atau gangguan perilaku. Banyak kasus tidak terdeteksi dan tidak ditangani, hingga berujung pada risiko sosial serius—dari pengucilan, kecanduan, hingga bunuh diri.

“Gangguan mental di usia remaja tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga menurunkan kualitas hidup saat dewasa,” tegas WHO dalam siaran resminya.

WHO menggarisbawahi bahwa masa remaja adalah fase kompleks yang penuh tekanan emosional, sosial, dan fisik. Faktor risiko terbesar gangguan mental di usia ini meliputi:

  • Kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, dan pelecehan.
  • Tekanan teman sebaya, krisis identitas, dan pengaruh media sosial.
  • Minimnya akses layanan psikologis dan stigma terhadap bantuan profesional.

Kelompok yang paling rentan termasuk anak yatim piatu, remaja penyandang disabilitas, minoritas, korban pernikahan dini, dan orang tua muda.

Data WHO: Gangguan Mental Remaja Global

Gangguan yang paling umum melanda remaja mencakup:

  • 5,5 persen remaja usia 15–19 tahun mengalami kecemasan.
  • 3,5 persen mengalami depresi.
  • Gangguan perilaku lain seperti ADHD dan gangguan makan (anoreksia, bulimia) juga meningkat.

Gangguan makan secara khusus di hubungkan dengan lonjakan angka bunuh diri pada remaja perempuan.

Perilaku berisiko untuk terpapar alkohol, zat dan kekerasan. Remaja yang tidak tertangani secara mental cenderung mencari pelarian dalam bentuk merusak diri. WHO mencatat:

  • 22 persen remaja usia 15–19 tahun mengonsumsi alkohol.
  • 5,5 persen menggunakan ganja, bahkan melampaui pengguna dewasa.
  • Mayoritas mulai merokok sebelum usia 18 tahun.

Di beberapa wilayah, kekerasan interpersonal menjadi penyebab kematian tertinggi pada remaja laki-laki.

Baca Juga:  Dugaan Perundungan Siswa Inklusi di Surabaya, Pegiat Anak dan LPA Jatim Minta Pemprov Bertindak

Intervensi Dini dan Dukungan Nyata

Untuk mengatasi krisis ini, WHO bersama UNICEF meluncurkan Helping Adolescents Thrive (HAT). Ini merupakan inisiatif yang fokus pada promosi kesehatan mental di sekolah dan komunitas, pencegahan perilaku menyakiti diri dan penyalahgunaan zat, serta penguatan kapasitas tenaga pengajar dan layanan kesehatan dasar.

WHO juga memperbarui panduan intervensi mhGAP 2.0, yaitu protokol penanganan gangguan mental di layanan kesehatan non-spesialis, agar bisa menjangkau lebih banyak remaja.

Organisasi kesehatan global tersebut juga menegaskan kesehatan mental merupakan hak dasar anak. Hal ini sebagaimana dijamin dalam Konvensi PBB tentang Hak Anak. Mengabaikannya sama saja dengan menelantarkan masa depan generasi muda.

“Empati, intervensi dini, dan lingkungan suportif di rumah, sekolah, serta masyarakat adalah kunci.”

Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami tekanan mental, jangan diam. Hubungi layanan profesional atau pusat bantuan psikologis terdekat. (r6)

Pos terkait