Menembus Pasar Impor, Madura Siap Berguru Teknologi Tembakau ke Zimbabwe

Menembus Pasar Impor, Madura Siap Berguru Teknologi Tembakau ke Zimbabwe

Surabaya, (DOC) – Di tengah gempuran tembakau impor yang masih membanjiri Tanah Air, secercah harapan baru mulai disemai dari bumi Madura.

Bacaan Lainnya

Petani tembakau Indonesia kini bersiap melompati jurang produktivitas yang selama ini menganga, dengan menimba ilmu langsung dari salah satu raksasa produsen dunia, Zimbabwe.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur secara resmi menjajaki kerja sama strategis transfer teknologi budidaya dan pengolahan tembakau.

Sebagai langkah awal, sebuah proyek percontohan berskala uji coba dijadwalkan mulai menggeliat di Pamekasan pada 2027 mendatang.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Selama ini, produktivitas petani tembakau lokal masih tertinggal jauh di angka rata-rata satu ton per hektare. Sementara itu, Zimbabwe mampu menorehkan angka fantastis hingga tiga ton per hektare di lahan dengan komoditas serupa.

“Harapannya, produktivitas petani tembakau Indonesia bisa meningkat, baik dari sisi budidaya maupun teknologi pascapanen, sehingga mampu bersaing dengan produk impor,” ujar Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, di Surabaya, Selasa (27/10/2026).

Jerat Impor Rp18 Triliun dan Kebutuhan Industri

Ketergantungan Indonesia terhadap tembakau luar negeri, khususnya jenis Virginia, masih menjadi PR besar bagi sektor agrikultur nasional.

Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia setiap tahunnya harus merogoh kocek dalam untuk mengimpor sekitar 121 ribu ton tembakau dengan nilai fantastis mencapai Rp18 triliun dari berbagai negara seperti China, India, Brasil, hingga Zimbabwe sendiri.

Industri dalam negeri menuntut spesifikasi, kualitas, andal mutu yang ketat. Selama ini, tantangan terbesar petani lokal bukan hanya terletak pada kuantitas hasil panen, melainkan bagaimana menyesuaikan karakteristik tembakau agar dapat diterima sepenuhnya oleh industri domestik tanpa harus bergantung pada pasokan luar.

Karena itulah, pendampingan yang disiapkan dalam kolaborasi lintas negara ini dirancang secara menyeluruh mulai dari pengolahan lahan, pemilihan bibit unggul, teknik penanaman presisi, hingga penanganan pascapanen.

Baca Juga:  80 Persen Ikan di Kali Surabaya Betina, Ecoton Soroti Ancaman Paparan Limbah

Proyek Percontohan Pamekasan 2027

Sebagai babak pembuka, Kadin Jatim akan memulai uji coba di Pamekasan dengan menggandeng satu petani pelopor pada tahun 2027.

Proyek ini akan menjadi laboratorium nyata guna mengukur sejauh mana adaptasi teknologi luar negeri ini cocok dengan struktur tanah dan iklim lokal di Madura.

Tak hanya berhenti pada budidaya ala Zimbabwe, gelombang modernisasi ini juga diperkuat dengan masuknya teknologi pascapanen dari Bulgaria.

Perusahaan asal Eropa tersebut memperkenalkan curing chamber atau ruang pengering tembakau modern untuk memastikan proses pengeringan berjalan optimal demi menjaga kualitas prima hasil panen.

Kehadiran perwakilan Zimbabwe dan penyedia teknologi Bulgaria di Indonesia yang rangkaian agendanya turut singgah di ajang Indonesia Tobacco Expo (ITE) Jakarta dan Surabaya menandai babak baru diplomasi agribisnis.

Bagi petani tembakau Madura, uji coba di Pamekasan nanti bukan sekadar menanam daun hijau, melainkan pertaruhan besar untuk mengubah nasib: menaikkan hasil, mengerek mutu, dan merebut kembali pasar di rumah sendiri.

Pos terkait