Jawa Timur Diuntungkan, Peluang Usaha Terbuka di Tengah Tekanan Global

Jawa Timur Diuntungkan, Peluang Usaha Terbuka di Tengah Tekanan Global

Surabaya,(DOC) – Tahun 2026 kembali di buka dengan perasaan waswas sekaligus harapan. Ketidakpastian global masih membayangi perekonomian dunia, namun peluang tetap terbuka bagi pelaku usaha yang mampu membaca arah perubahan. Dunia hari ini—dan ke depan—adalah dunia yang terus bergerak, dan perubahan itu bersifat permanen.

Bacaan Lainnya

Wakil Ketua Kadin Surabaya sekaligus Direktur Utama CV Surya Bhakti Mandiri, Medy Prakoso, menilai bahwa fondasi ekonomi global hingga nasional saat ini masih sangat di pengaruhi oleh dampak pandemi Covid-19. Menurut berbagai kajian, dampak pandemi bukanlah fenomena jangka pendek.

“Covid belum benar-benar usai. Dampaknya bisa terasa hingga 25 tahun ke depan, bahkan sampai 2044. Kita masih berada dalam fase pemulihan,” ujarnya, Sabtu (3/1).

Kondisi tersebut tercermin dari dinamika dunia usaha. Di satu sisi, sejumlah perusahaan besar tumbang. Namun di sisi lain, banyak pelaku usaha baru bermunculan dengan berbagai skala. Tahun 2026, menurut Medy, masih akan di warnai upaya pemulihan lanjutan dari tekanan ekonomi yang terjadi sepanjang 2024–2025.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai investasi sepanjang 2025 tetap tinggi dan mencatatkan pertumbuhan. Namun, investasi tersebut tidak serta-merta memberikan dampak instan. Banyak pelaku usaha masih menunggu hasil nyata dari penanaman modal yang di lakukan beberapa tahun terakhir.

Di saat bersamaan, meningkatnya investasi Indonesia di luar negeri turut memengaruhi dinamika ekonomi domestik. Secara global, peta ekonomi dan teknologi juga mengalami fragmentasi. Tiongkok dan negara-negara yang telah lebih dulu terfragmentasi mulai merambah kawasan dengan tingkat perkembangan lebih rendah. Setelah Asia, Afrika di perkirakan menjadi kawasan pertumbuhan baru berikutnya.

Amerika Serikat, lanjut Medy, masih akan menghadapi perjalanan ekonomi yang berfluktuasi. Kebijakan era Donald Trump yang dampaknya belum sepenuhnya berakhir menciptakan dinamika layaknya “roller coaster”, sementara Eropa hadir sebagai kutub berbeda meski tetap berada dalam satu koalisi kepentingan global.

Baca Juga:  41 UMKM Unjuk Produk di Pertamina SMExpo Surabaya 2025

Situasi tersebut akan terus memengaruhi variabel makroekonomi dunia, mulai dari nilai tukar dolar, harga emas, pasar saham, hingga aset kripto.

Pembenahsn Domestik

Di tengah dinamika global itu, Indonesia di perkirakan masih fokus pada pembenahan domestik. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengejar target kinerja lima tahunan melalui percepatan pembangunan fisik dan investasi, termasuk lewat skema Danantara, setidaknya hingga 2027.

“Tujuannya jelas, membuka peluang daya beli masyarakat dan meningkatkan belanja negara,” kata Medy.

Dari sisi sektoral, peluang besar di nilai masih terbuka di bidang energi, teknologi informasi, serta hasil bumi yang menopang industri IT dan komponen elektronika. Kebutuhan digitalisasi dan modernisasi sistem berskala nasional akan terus meningkat, memicu lahirnya industri pendukung baru, khususnya di Jawa Timur.

“Posisi Jawa Timur sebagai pintu gerbang Indonesia Timur akan berdampak langsung pada peningkatan perdagangan, baik domestik maupun internasional,” ujarnya.

Meski ekspor di proyeksikan tetap tumbuh, karakter industri Jawa Timur yang kuat membuat kebutuhan impor—terutama bahan baku—masih cukup tinggi. Secara proporsi, impor diperkirakan berada di kisaran 10 persen, terutama untuk menopang rantai pasok industri dan peluang spekulasi jangka pendek.

Bagi pelaku usaha yang lebih berhati-hati, sektor jasa dan usaha riil skala kecil di nilai masih relatif aman. Namun, pemahaman terhadap regulasi serta kondisi mikro dan makro ekonomi tetap menjadi kunci keberlanjutan usaha.

Pengembangan SDM

Menurut Medy, tantangan terbesar ke depan bukan semata investasi, melainkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kewirausahaan. Digitalisasi memang meningkatkan efisiensi, namun di sisi lain menekan serapan tenaga kerja.

“Karena itu, peningkatan kapasitas SDM dan kewirausahaan menjadi penting agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada sektor formal dan standar UMP/UMR,” tegasnya.

Setiap awal tahun selalu di iringi kecemasan. Namun sejarah menunjukkan bahwa setiap akhir tahun selalu berhasil di lalui. Dari sana lahir para penyintas ekonomi yang tangguh.

“Maka tidak perlu khawatir secara mendalam. Selalu akan ada keadaan baru yang menyelamatkan,” pungkas Medy.

Tahun 2026 bukan tentang menghindari perubahan, melainkan tentang beradaptasi, membaca peluang, dan bertahan di dunia yang terus bergerak. (r6)

Pos terkait