Surabaya,(DOC) – Puluhan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bank Indonesia (BI) Jawa Timur di Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu (10/6/2026). Mereka menyuarakan sejumlah tuntutan terkait pelemahan nilai tukar rupiah serta kebijakan moneter nasional.
Aksi sempat memanas ketika massa mendesak Gubernur Bank Indonesia hadir dan menemui demonstran secara langsung. Karena tuntutan tersebut tidak segera mendapat respons, mahasiswa membakar ban di depan gerbang kantor BI sebagai bentuk protes.
Petugas kepolisian yang berjaga segera memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) untuk mencegah situasi semakin memanas. Sebanyak 102 personel kepolisian diterjunkan untuk mengamankan jalannya aksi.
Soroti Pelemahan Rupiah
Koordinator aksi, Muhammad Ivan Akiedozawa, menilai kondisi ekonomi nasional saat ini perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, berbagai program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar harus diimbangi dengan kebijakan ekonomi yang tepat agar tidak menimbulkan dampak terhadap stabilitas ekonomi.
Dalam orasinya, Ivan mengingatkan potensi tekanan ekonomi yang dapat terjadi apabila pelemahan nilai tukar rupiah tidak segera diantisipasi.
“Krisis moneter ada di depan mata. Jangan sampai bangsa ini kembali mengalami krisis seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Karena itu kami turun untuk mengingatkan dan mengawal kondisi ekonomi nasional,” tegasnya.
Mahasiswa juga menegaskan bahwa rupiah tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, tetapi juga simbol kedaulatan dan harga diri bangsa. Karena itu, mereka meminta Bank Indonesia memperkuat perannya dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Sampaikan Tujuh Tuntutan
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan tujuh tuntutan kepada Bank Indonesia dan pemerintah. Mereka meminta BI bertanggung jawab atas pelemahan rupiah, mendorong DPR RI melakukan evaluasi terhadap kinerja Bank Indonesia, serta mendesak adanya reformasi kelembagaan di tubuh BI.
Selain itu, massa juga meminta penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. Bahkan, mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi jajaran pimpinan Bank Indonesia.
Salah satu tuntutan yang menyita perhatian publik adalah permintaan agar Kepala Perwakilan BI Jawa Timur melakukan sumpah mubahalah sebagai bentuk pembuktian bahwa tidak pernah melakukan penyimpangan selama menjalankan tugas.
Sumpah Mubahalah Warnai Aksi
Saat perwakilan Bank Indonesia menemui massa, tiga orang perwakilan BI membacakan sumpah mubahalah di hadapan para demonstran.
Namun, suasana kembali memanas ketika salah satu perwakilan BI meminta mahasiswa melakukan sumpah serupa. Massa menolak permintaan tersebut dan kembali mendesak agar Gubernur BI hadir secara langsung untuk berdialog.
Menjelang berakhirnya aksi, mahasiswa menyatakan akan kembali menggelar demonstrasi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan mereka tidak mendapatkan respons dari pihak terkait.(r7)





