
Surabaya, (DOC) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik terkait keberadaan sesar aktif di Kota Pahlawan. Meski demikian, warga diminta tetap memahami risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan.
Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto, menjelaskan bahwa jalur sesar aktif membentang panjang dari barat hingga timur Pulau Jawa, yang dikenal sebagai Patahan atau Sesar Kendeng. Khusus di wilayah Surabaya, Sesar Kendeng terbagi menjadi dua segmen, yakni Segmen Surabaya dan Segmen Waru.
“Masyarakat tidak perlu takut. Keberadaan sesar ini bukan berarti gempa pasti terjadi saat ini atau dalam waktu dekat. Namun, yang terpenting adalah warga memahami risikonya dan memiliki kesadaran mitigasi,” ujar Irvan, Jumat (11/9/2026).
Irvan menekankan bahwa kesadaran bencana harus dimulai dari setiap individu. Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Kota Surabaya melalui BPBD rutin menggelar sosialisasi dan edukasi kedaruratan di pemukiman padat penduduk, sekolah, hingga area perkantoran.
“Setiap hari kami turun ke lapangan untuk melakukan langkah mitigasi, baik diminta maupun tidak,” tambahnya.
Ia juga memohon masyarakat untuk selalu memverifikasi informasi kebencanaan melalui saluran resmi seperti BMKG dan BPBD agar terhindar dari disinformasi.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika BMKG Kelas I Pasuruan, Rozikan, menegaskan bahwa sesar di Surabaya bukanlah struktur yang baru terbentuk. Berdasarkan pemutakhiran data Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) tahun 2017 dan 2024, jalur tersebut merupakan struktur geologi purba yang kembali teridentifikasi sebagai sesar aktif.
Kedua segmen ini merupakan bagian dari zona lipatan dan patahan (thrust zone) Kendeng.
Berdasarkan peta PuSGen 2024, segmen Surabaya berpotensi magnitudo maksimum M 6,7 dengan pergerakan 0,5 mm per tahun dan untuk segmen waru berpotensi magnitudo maksimum M 6,8 dengan pergerakan 1 mm per tahun.
“Jika terjadi magnitudo maksimum, efek guncangan bisa mencapai intensitas VI–VIII MMI (Modified Mercalli Intensity). Skala ini berpotensi memicu kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan tahan gempa, serta kerusakan berat pada bangunan non-struktural,” jelas Rozikan saat ditemui di Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Sidoarjo.
Menghadapi potensi risiko tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan beberapa langkah antisipasi, yaitu tidak mudah percaya pada isu liar atau hoaks dan selalu memantau aplikasi resmi InfoBMKG, menerapkan prinsip Drop, Cover, Hold On (Menunduk, Berlindung di bawah meja, dan Berpegangan) saat gempa terjadi, serta memperhatikan rambu penunjuk arah evakuasi dan mengetahui titik kumpul terdekat di lingkungan masing-masing.
Rozikan menegaskan bahwa pemahaman akan akses evakuasi dan titik kumpul menjadi kuncinya. “Titik kumpul adalah lokasi akhir yang paling aman saat bencana terjadi,” pungkasnya.





