Surabaya,(DOC) – Berawal dari keisengan sekelompok pecinta gowes di Surabaya, Sub Jersey perlahan tumbuh menjadi brand sport apparel lokal yang kini di perhitungkan. Di dirikan pada 2016, merek ini tidak hanya menguatkan pasar dalam negeri, tetapi juga sukses menembus segmen premium internasional, termasuk Jepang dan Korea Selatan.
CEO Sub Jersey, Bagus Ramadani, menuturkan bahwa ide bisnis ini lahir dari keresahan yang sangat personal. Saat itu, ia dan komunitas sepedanya merasa dunia apparel gowes terlalu eksklusif. Harga mahal dan dominasi produk impor membuat olahraga bersepeda seolah hanya milik segelintir kalangan.
“Kalau di lihat dari piramida pasar, yang di sentuh cuma bagian atas, padahal kecil. Visi besarnya, kami ingin produk ini bisa di pakai semua kalangan, dari bawah, menengah, sampai atas,” ujar Bagus dalam podcast Cerita Bersama Brand Lokal di kanal YouTube JNE_ID, Kamis (8/1).
Langkah awal Sub Jersey terbilang sederhana. Salah satu produk perdananya di beri nama 05AM, merujuk pada kebiasaan komunitas gowes yang memulai kayuhan sejak pukul lima pagi. Waktu subuh itu kemudian menjadi identitas, bahkan menjelma sebagai emblem yang kini lekat dengan Sub Jersey.
Momentum penting datang pada 2018. Sub Jersey merilis desain spesial bertema Hari Kemerdekaan Indonesia. Alih-alih mengusung motif umum, mereka memilih mengeksplorasi kekayaan budaya Nusantara, seperti arsitektur Tongkonan dari Sulawesi dan Batik Mega Mendung dari Cirebon. Respons pasar sangat positif dan menjadi fondasi lahirnya seri Archipelago.
“Desain yang punya cerita dan makna ternyata punya daya tarik kuat. Konsumen bukan hanya membeli produk, tapi juga identitas dan nilai di baliknya,” kata Bagus.
Prinsip Konsisten
Di tengah gempuran brand sport apparel baru, Sub Jersey memilih bertahan dengan prinsip yang konsisten. Menurut Bagus, ada dua kunci utama menjaga relevansi. Pertama, komitmen pada kualitas. Kedua, riset yang mendalam. Setiap produk di rancang melalui proses panjang, bukan sekadar mengikuti tren pasar.
Seluruh lini Sub Jersey melewati riset material dan desain yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Tujuannya memastikan kenyamanan, daya tahan, dan performa maksimal sesuai aktivitas penggunanya.
Meski berbasis di Surabaya, pasar terbesar Sub Jersey justru berasal dari Jakarta. Perubahan perilaku belanja ke ranah daring sejak pandemi menjadi faktor pendorong. Untuk menjaga kepuasan pelanggan, kualitas produk dan ketepatan pengiriman menjadi perhatian utama. Karena itu, Sub Jersey mempercayakan distribusi produknya kepada JNE.
“Orang belanja berharap produknya sampai dengan kondisi bagus dan tepat waktu. Kualitas produk kami jaga, pengirimannya kami percayakan ke JNE,” ujarnya.
Perjalanan ke pasar internasional pun terjadi tanpa skenario besar. Pada masa pandemi, seorang pesepeda asal Korea Selatan membeli beberapa potong jersey saat berada di Indonesia dan membawanya pulang. Dari sanalah pesanan dalam jumlah besar mulai berdatangan dan berlanjut hingga kini.
Jepang kemudian menyusul. Menariknya, material Sub Jersey yang di rancang untuk iklim tropis Indonesia justru sangat cocok di gunakan di negara dengan suhu lebih dingin.
“Bahan elite kami malah lebih cocok di sana karena cuacanya lebih dingin,” kata Bagus.
Dari jalanan Surabaya saat subuh hingga menembus pasar global, kisah Sub Jersey membuktikan bahwa mimpi besar bisa di jahit dari kegelisahan sederhana, asal di jalani dengan konsistensi, riset, dan keberanian mengangkat identitas sendiri. (r6)





