
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya mengubah pendekatan dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) agar lebih tepat sasaran dan transparan. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, Pemkot Surabaya tak lagi menjadikan pengkategorian desil sebagai acuan utama, melainkan beralih pada verifikasi faktual berbasis kesepakatan warga melalui Musyawarah Kelurahan (Muskel).
Langkah tersebut ditunjukkan langsung saat Wali Kota Eri menyisir dan memverifikasi data penerima bansos bersama warga di RW 5 Wonorejo, Kelurahan Tegalsari, Jumat (11/9/2026) sore.
“Saya tidak lagi menentukan sendiri, dan saya tidak mau hanya melihat desil. Nanti yang paling menentukan adalah kesepakatan warga,” tegas Wali Kota Eri usai memimpin Muskel.
Untuk mengawal keterbukaan data di lapangan, Pemkot Surabaya menggandeng jajaran Karang Taruna Arek Surabaya Asli (Arsas). Melalui penyisiran terbuka bersama warga RT 9 RW 5 Wonorejo, sejumlah ketidaksesuaian data langsung terdeteksi, seperti penerima yang sudah pindah rumah hingga warga yang tidak lagi berdomisili di Surabaya.
“Dari temuan tersebut, kami langsung mencoret nama yang tidak memenuhi syarat agar alokasi anggaran dapat dialihkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan,” jelasnya.
Cak Eri, sapaan akrabnya, mebeberkan skala prioritas baru dalam penyaluran intervensi pemerintah adalah warga Surabaya berdomisili tetap yang tidak memiliki aset rumah (menyewa/kontrak), tidak memiliki kendaraan motor, dan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok harian, warga yang memiliki aset seperti kendaraan atau barang elektronik berlebih.
“Untuk lansia yang memiliki anak berkecukupan didorong memanfaatkan tanggung jawab keluarga terlebih dahulu. Selain itu, warga yang tidak berdomisili di Surabaya atau tidak aktif dalam kegiatan kemasyarakatan tidak menjadi prioritas,” ungkapnya.
Cak Eri berharap model Muskel transparan ini dapat diterapkan serentak di seluruh wilayah Surabaya sebagai wujud Kampung Pancasila yang mengedepankan gotong royong dan keadilan sosial.
“Bukan hanya RT, RW, kelurahan, kecamatan, atau Dinsos, tetapi semua warga ikut mengoreksi. Inilah Surabaya sebagai Kampung Pancasila,” pungkasnya.





