
Surabaya, (DOC) – Berawal dari keinginan membantu ekonomi keluarga dari rumah, para perempuan di Kampung Gundih, Surabaya, kini berdiri di garda depan pelestarian budaya melalui Batik Tin Gundih. Berdiri sejak Desember 2021, kelompok UMKM berbasis perempuan ini tidak hanya memproduksi kain batik, tetapi juga mentransformasi kampung mereka menjadi ruang edukasi budaya bagi masyarakat hingga wisatawan mancanegara.
Langkah pemberdayaan perempuan dalam merawat warisan budaya ini mendapat suntikan semangat baru melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) melalui skema Srikandi Movement “Women Support Women”.
Melalui program ini, PLN UIT JBM menyalurkan bantuan berupa pembinaan kader, pengembangan fasilitas galeri wisata edukasi, hingga alat membatik dan menjahit berbasis elektrik untuk memodernisasi produksi tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya.
Ketua Batik Tin Gundih, Purwanti, mengungkapkan bahwa dukungan ini menjadi penguat peran perempuan kampung untuk mandiri secara ekonomi sekaligus menjaga pengetahuan batik agar tidak punah.
“Batik Tin Gundih dibangun dari mimpi sederhana para perempuan hebat yang ingin membantu ekonomi keluarga, melestarikan budaya, sekaligus membuktikan bahwa perempuan mampu berdaya dari rumah,” ujar Purwanti, Sabtu (12/9/2026).
Bagi warga sekitar, peran aktif para perempuan ini memberi dampak nyata. Lurah Gundih, Christiono, mengapresiasi bagaimana daya cipta kelompok perempuan ini mampu mengangkat citra wilayahnya menjadi destinasi wisata edukasi.
“Bantuan ini sangat berarti untuk melengkapi sarana Batik Tin Gundih, sehingga wisatawan yang datang berkunjung maupun belajar membatik dapat merasa lebih nyaman,” kata Christiono.
Sementara itu, Senior Manager Perencanaan PLN UIT JBM sekaligus Champion Srikandi, Titi Murdiyati, menegaskan pentingnya keberadaan ruang bagi perempuan untuk memimpin pelestarian budaya di tingkat lokal.
“Melalui Srikandi Movement Women Support Women, PLN ingin mendorong perempuan agar semakin berdaya, mandiri, dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki,” tegas Titi.
Senada dengan Titi, General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, berharap keberlanjutan program ini dapat memperluas jangkauan manfaat pemberdayaan hingga ke generasi muda.
“PLN berharap bantuan ini dikelola secara optimal dan berkelanjutan, sehingga semakin banyak masyarakat, khususnya perempuan dan generasi muda, yang merasakan manfaatnya,” tutur Ika.
Dari ruang produksi sederhana di Kampung Gundih, para perempuan ini membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi dan pelestarian budaya lokal bisa berjalan berdampingan, menjadikan tradisi tetap hidup di tengah arus modernisasi kota.





