
Surabaya, (DOC) – Perkembangan teknologi digital telah menggeser makna branding modern. Tak lagi sebatas logo visual atau kemasan produk, branding kini bertumpu pada kekuatan narasi (storytelling) yang sanggup membangun ikatan emosional mendalam dengan audiens.
Isu krusial ini mengemuka dalam Communication Symposium & Convention (Commposition) 2026 bertajuk “Beyond Branding: How Stories Shape Taste, Identity, and Culture” yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur di Twin Tower B, Rabu (4/11/2026).
Simposium ini mempertemukan akademisi serta praktisi lintas industri untuk menguliti strategi bertahan hidup media lokal hingga fenomena kedekatan emosional manusia dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Salah satu sorotan utama datang dari industri penyiaran. Operational Manager Radio Kosmonita, Ratna Wina, membeberkan jurus bertahan di tengah gempuran kreator konten, podcast, dan platform musik digital. Menurutnya, radio kini meluncurkan transformasi lewat tiga pilar utama (on air, online, offline) untuk merawat komunitas dan menjangkau pendengar muda melalui TikTok, Instagram, hingga Threads.
Sisi lain penjenamaan kreatif dikupas oleh produser Rayu Films, Rifqi Ajir, yang menegaskan bahwa film tidak hanya bertumpu pada estetika cerita, melainkan juga strategi pendanaan dan branding yang tepat agar mampu menjangkau pasar.
Sementara itu, dari sudut pandang korporasi, Product Group Manager PT Jamu Iboe Jaya, Perry Angglishartono, membagikan resep komunikasi produk herbal dalam mempertahankan identitas di era modern.
Tak kalah menyita perhatian, pakar komunikasi UPN Veteran Jatim sekaligus kandidat doktor Goldsmiths University of London, Oktifani Winarti, melontarkan kritik tajam terkait interaksi manusia dengan AI chatbot.
Mengacu pada teori Anthony Giddens (Modernity and Self-Identity), Oktifani mengingatkan adanya bahaya terselubung di balik kenyamanan percakapan dengan AI.
“Personalisasi yang dirasakan pengguna sebagai bentuk perhatian dapat berkaitan dengan kepentingan komersial perusahaan teknologi, termasuk pemanfaatan data. Chatbot tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga memengaruhi cara pengguna memahami dirinya,” ujar Oktifani.
Selain helatan simposium, momentum ini bertepatan dengan perayaan Dies Natalis ke-32 Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Dekan FISIBPOL Prof. Dr. Catur Suratnoaji, M.Si. secara resmi meluncurkan Program Doktor (S3) Ilmu Komunikasi, meresmikan rebranding logo Prodi S1, S2, S3, serta merayakan capaian Akreditasi Unggul untuk jenjang S1.
