Surabaya, (DOC) – Dinas Kesehatan Kota Surabaya telah mencatat kemajuan yang penting dalam mengatasi dan mencegah Tuberkulosis (TBC). Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Nanik Sukristina, menyatakan bahwa dari target estimasi sebanyak 16.127 kasus, sudah 3.228 kasus yang berhasil di deteksi dini. Ini merupakan realisasi 20 persen dari target yang di tetapkan hingga 30 April 2024.
“Kami terus berupaya menurunkan prevalensi TBC di kota tersebut dengan menerapkan strategi seperti skrining aktif dan pasif. Fokus utama nantinya adalah kelompok berisiko tinggi,” ungkap Nanik.
Menurutnya, skrining pasif di arahkan kepada kelompok tertentu seperti pasien HIV, diabetes, anak-anak dengan gizi buruk. Selain itu, ada juga pasien ISPA/Pneumonia, Covid-19, dan calon jemaah haji.
“Sedangkan skrining aktif kami rencanakan akan melibatkan berbagai sektor untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada masyarakat. Dengan ini, kami bisa memperluas kesempatan untuk deteksi dini,” ujarnya.
Di tanya tentang tantangan dalam menghadapi penderita TBC yang enggan mengungkapkan kondisinya, Dinkes Surabaya telah mengimplementasikan strategi komprehensif untuk mengurangi stigma negatif.
“Kami mengurangi stigma dengan promosi kesehatan, penyuluhan, dan penyebaran informasi melalui tokoh masyarakat, agama, dan media sosial,” kata Nanik.
Ia juga menyatakan bahwa pendekatan ini melibatkan satgas TBC di tingkat kecamatan dan penggunaan influencer. Dengan begitu, Nanik yakin akan ada peningkatan kesadaran serta mengurangi rasa takut dan salah paham terkait TBC. Langkah tersebut termasuk program edukasi yang di jalankan tidak hanya melalui penyuluhan.
“Kami bekerja sama dengan puskesmas, kader kesehatan, dan organisasi non-pemerintah untuk menyebarkan informasi tentang cara pencegahan dan pengobatan TBC,” terangnya.
Penanganan Pasien TBC Resisten Obat
Mengenai penanganan TBC Resisten Obat (RO), Nanik menjelaskan bahwa pengobatan TBC RO membutuhkan pendekatan khusus. Dalam hal ini, pengobatan juga termasuk penggunaan obat spesifik dan durasi pengobatan yang lebih panjang.
“Protokol pengobatan meliputi penggunaan regimen BPAL/M selama 6 bulan, STR selama 9 bulan, dan LTR selama 18-24 bulan,” paparnya.
Dirinya juga menekankan pentingnya pendampingan oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) dan Peer Educator (mantan pasien TBC RO) juga di tekankan, termasuk Investigasi Kontak dan pemberian suplemen nutrisi.
“Kami juga menyediakan pemberian TPT kepada kontak serumah pasien dan PMT berupa susu untuk mendukung kesembuhan,” tutup Nanik. (r6)






