Surabaya,(DOC) – Ikan mati massal terjadi di Kali Surabaya sejak Sabtu (18/5/2025). Ratusan ribu ikan mengambang dan membusuk di permukaan air. Sungai Kali Surabaya yang menjadi bahan baku air minum warga kini berubah menjadi aliran penuh racun. Kondisi ini membuat warga cemas, sementara para aktivis lingkungan menuntut tindakan tegas.
Namun, hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Gubernur Jawa Timur atau Dinas Lingkungan Hidup. Sikap pasif ini memicu kemarahan berbagai pihak, terutama mereka yang selama ini aktif memantau kualitas air sungai.
Sementara itu, Audamar Maulana, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya sekaligus peneliti komunitas Surabaya River Revolution, menyebut kejadian ini sebagai bencana ekologis. “Ini bukan hanya tentang ikan yang mati, tapi tentang kegagalan sistemik dalam melindungi lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti persoalan lain di sekitar Kali Surabaya. Bantaran sungai dipenuhi rumah liar. Sampah plastik menumpuk di sepanjang aliran. Limbah industri mengalir deras tanpa pengolahan. “Seharusnya sungai menjadi kawasan lindung, bukan tempat pembuangan limbah,” tambah Audamar.
5 tuntutan Akamsi dan Ecoton
Di sisi lain, air dari Kali Surabaya masih menjadi sumber utama untuk PDAM Surabaya. Meskipun begitu, belum ada langkah konkret dari pemerintah untuk memastikan keamanan air bagi warga.
Merespons hal ini, AKAMSI (Aliansi Komunitas Mahasiswa) bersama ECOTON akan menggelar aksi pada Selasa (20/5/2025) pukul 10.00 WIB. Mereka menuntut Gubernur Jawa Timur mengambil tanggung jawab dan segera bertindak.
Prigi Arisandi, aktivis dari ECOTON, menilai insiden ratusan ribu ikan mati massal ini sebagai bukti lemahnya pengawasan pencemaran Kali Surabaya oleh pemerintah provinsi. “Jika gubernur terus diam, maka sama saja membiarkan rakyat minum air tercemar,” tegasnya.
Sebagai bentuk desakan konkret, AKAMSI dan ECOTON menyampaikan lima tuntutan:
- Umumkan penyebab kematian ikan secara terbuka.
- Gubernur ambil alih pengawasan sungai lintas kabupaten/kota.
- Tindak tegas industri pencemar air.
- Libatkan komunitas dan kampus dalam pengawasan air.
- Pulihkan fungsi ekologis Kali Surabaya.
Pada akhirnya, para aktivis berharap aksi ini tidak diabaikan. Mereka ingin perubahan nyata, bukan janji kosong. Jika sungai terus rusak, maka bukan hanya ikan yang mati, melainkan juga masa depan generasi penerus.(r7)





