Krisis Lahan Makam, Surabaya Andalkan Kolaborasi Kampung

Krisis Lahan Makam, Surabaya Andalkan Kolaborasi Kampung

Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota Surabaya terus mencari solusi atas keterbatasan lahan makam yang kian menyempit seiring pertambahan jumlah penduduk. Salah satu upaya yang di lakukan adalah menggandeng pengurus kampung untuk menata ulang pemanfaatan lahan pemakaman agar lebih efisien dan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyebut pertumbuhan penduduk menjadi tantangan utama dalam penyediaan lahan makam di kota besar seperti Surabaya.

“Semakin banyak warga, tentu kebutuhan lahan makam juga bertambah. Makanya, kita fungsikan kembali lahan makam yang ada di kampung-kampung,” ujarnya, Sabtu (25/10/2025).

Menurutnya, pola lama berupa makam keluarga atau makam kampung perlu di hidupkan kembali. Pemkot mendorong kolaborasi dengan pengelola makam lokal agar penggunaan lahan bisa di lakukan secara bersama-sama dan tidak boros ruang.

“Kalau setiap orang minta satu lahan, habis semua tanahnya. Harus di kelola bersama,” tegasnya.

Eri menambahkan, jumlah penduduk Surabaya yang sebelumnya 2,7 juta kini sudah tembus lebih dari 3 juta. Tanpa pengelolaan yang bijak, lahan kota bisa habis hanya untuk makam.

Ia mencontohkan tradisi pemakaman keluarga yang pernah populer di masyarakat. Bahkan, ia sendiri masih menerapkan sistem tersebut dalam keluarganya.

“Makam keluarga saya di Tembok Dukuh. Dulu untuk almarhum mbah saya, lalu di gunakan juga untuk abah saya. Jadi, satu lahan bisa di pakai beberapa anggota keluarga,” jelasnya.

Menurutnya, sistem pemakaman seperti itu tidak hanya efisien secara lahan, tapi juga memperkuat nilai kekeluargaan dan kedekatan antarwarga.

“Pemkot tidak bisa terus-menerus menyediakan lahan untuk semua. Kita harus berkolaborasi dengan warga dan kampung agar ada kesadaran bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas adalah langkah realistis untuk menjaga keseimbangan antara ruang hidup dan ruang pemakaman.

Saat di tanya apakah sistem ini berarti satu liang bisa di gunakan untuk lebih dari satu anggota keluarga, Wali Kota Eri membenarkan. “Iya, satu liang,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait