
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya terus menelusuri, merapikan, dan membakukan ribuan nama tempat serta unsur geografis (rupabumi) di wilayahnya.
Langkah ini bukan sekadar urusan plang jalan, melainkan bagian dari investasi besar untuk menjaga sejarah lokal sekaligus memperkuat integrasi data pelayanan publik digital.
Tak main-main, dalam kurun waktu lima tahun (2022–2026), Pemkot Surabaya mengalokasikan total anggaran mencapai Rp6,36 miliar khusus untuk penyelenggaraan nama rupabumi.
Keseriusan ini membuahkan hasil signifikan, dari yang sebelumnya hanya membakukan 332 nama pada 2024, angkanya melonjak drastis hingga 370 persen menjadi 1.559 nama pada 2025. Memasuki tahun 2026, sebanyak 1.517 nama rupabumi kembali berhasil dibakukan.
Kepala Bagian Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Bapemkesra) Kota Surabaya, Arief Boediarto, menjelaskan bahwa penataan toponimi ini bertumpu pada tiga pilar utama: maju, humanis, dan berkelanjutan.
“Nama tempat menyimpan sejarah dan menjadi bagian dari kehidupan warga. Karena itu, penelaahan turut melibatkan sejarawan, budayawan, dan tokoh setempat melalui forum FGD,” ujar Arief saat memaparkan capaian di hadapan Tim Penilai Penyelenggaraan Nama Rupabumi Tingkat Jawa Timur 2026 di Kantor Bapemkesra Surabaya, Rabu (5/11/2026).
Selain melestarikan aspek sosiokultural, pembakuan nama rupabumi menjadi modal vital dalam memperkuat keakuratan alamat pada sistem perizinan serta integrasi layanan digital berbasis Sistem Informasi Geografis (SIGIS) dan Sistem Informasi Nama Rupabumi (SINAR) milik Badan Informasi Geospasial (BIG).
Untuk memastikan akurasi data lapangan, Pemkot Surabaya bahkan melengkapi petugasnya dengan teknologi canggih Global Navigation Satellite System (GNSS) Real-Time Kinematic (RTK).
Penataan ini dilakukan secara bertahap dengan menyasar dua kecamatan setiap tahunnya. Sejak 2020 hingga 2026, program ini telah menjangkau 14 kecamatan, termasuk Sukolilo dan Mulyorejo pada 2025, serta Kecamatan Bulak dan Kenjeran yang menjadi fokus utama di tahun 2026.
Komitmen berkelanjutan Surabaya ini memetik pujian dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Koordinator Rupabumi Provinsi Jatim, Ratna Pertiwi, menilai Surabaya sebagai salah satu dari sedikit daerah yang konsisten menjalankan pembakuan nama geografis secara tertib.
“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Kota Surabaya, ini luar biasa. Kami berharap penyelenggaraan ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi kabupaten/kota lainnya,” puji Ratna.
Usai sesi pemaparan, Tim Penilai dari Biro Pemerintahan dan Otda Prov Jatim bersama BIG langsung bergerak meninjau lapangan ke Taman Harmoni, Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, untuk memverifikasi data dan menilai langsung nilai sejarah nama rupabumi yang diajukan.





