Pemkot Surabaya dan MUI Sisipkan Pesan Anti-Narkoba di Kultum Tarawih

Pemkot Surabaya dan MUI Sisipkan  Pesan Anti-Narkoba di Kultum Tarawih
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surabaya menyiapkan strategi khusus dalam memberantas peredaran narkoba dan minuman keras (miras).

Salah satu terobosan utamanya adalah mewajibkan materi pencegahan narkoba disisipkan dalam ceramah dan kultum tarawih selama bulan suci Ramadan.

Bacaan Lainnya

Rencana tersebut mengemuka saat Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan keynote speech dalam Seminar dan Deklarasi Anti Narkoba yang digelar MUI Kota Surabaya di RS Kemenkes, Rabu (4/11/2026).

Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa penanganan masalah narkoba di Kota Pahlawan tidak bisa hanya mengandalkan penindakan hukum secara sporadis. Diperlukan pendekatan spiritual, edukasi, serta pemberdayaan ekonomi untuk memutus rantai peredaran hingga ke akar rumput.

“Masjid dan musala berdiri banyak di Surabaya, tetapi miras dan narkoba juga masih ada. Apalah arti berdirinya masjid kalau kita tidak mampu menghilangkan itu semua? Masjid itu bukan sekadar dibangun, tapi dimakmurkan. Mari bersama-sama kita lawan narkoba dan miras,” tegas Eri.

Untuk merealisasikan pendekatan spiritual tersebut, Ketua Umum MUI Kota Surabaya, KH Muhaimin Ali, mengungkapkan pihaknya siap menggandeng Pemkot Surabaya, BNN Kota Surabaya, dan Polrestabes Surabaya untuk memobilisasi mubalig serta khatib di seluruh wilayah Surabaya.

Melalui jaringan penceramah ini, MUI akan menyebarkan panduan materi khusus. Fokusnya, setiap ceramah maupun kultum tarawih di masjid dan musala tidak hanya membahas keutamaan ibadah Ramadan, tetapi wajib memuat pesan bahaya laten narkoba dari sudut pandang agama.

“Ramadan adalah momen tertinggi untuk mencegah kemungkaran. Karena itu, para penceramah dan imam tarawih nanti tidak hanya menyampaikan fadhilah Ramadan, tetapi wajib menyisipkan materi pencegahan narkoba. Dengan begitu, ratusan ribu jemaah di seluruh masjid dan musala Surabaya bisa mendapatkan edukasi secara serentak dan sistematis,” jelas KH Muhaimin Ali.

Pos terkait