
Surabaya, (DOC) – Dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk memperkuat Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional mengalami lonjakan drastis. Hingga 30 Juni 2026, realisasi anggaran ketahanan pangan di Jawa Timur menembus angka Rp904,23 miliar, atau melonjak hingga 199,34 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Lonjakan signifikan ini menandai percepatan eksekusi program pemerintah di sektor pangan, sekaligus mencatatkan rekor penyerapan semester pertama tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) I Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Timur, Wahidin, mengungkapkan bahwa akselerasi anggaran ini didorong oleh komitmen besar pemerintah pusat dalam merespons posisi strategis Jawa Timur.
“Realisasi ketahanan pangan hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp904,23 miliar. Angka ini tumbuh pesat 199,34 persen secara tahunan (year-on-year) dan menunjukkan percepatan nyata pelaksanaan program ketahanan pangan di daerah,” ujar Wahidin, Kamis (29/7/2026).
Peningkatan tajam ini membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi pada tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, realisasi anggaran pada semester I tahun 2023 tercatat sebesar Rp1,045 triliun, lalu terkoreksi menjadi Rp805,66 miliar pada 2024, dan menyusut ke angka Rp302,08 miliar pada 2025.
Kini di tahun 2026, penyerapan anggaran kembali melesat tajam seiring dengan melambungnya alokasi pagu anggaran. Pemerintah menggelontorkan pagu ketahanan pangan untuk Jatim sebesar Rp3,33 triliun pada 2026 melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding pagu 2025 yang tercatat sebesar Rp947,76 miliar.
“Peningkatan pagu yang melonjak tajam ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah untuk memperkokoh ketahanan pangan nasional dari Jawa Timur,” tegas Wahidin.
Langkah pemerintah memacu anggaran secara masif sangat beralasan. Jawa Timur hingga kini memegang peran kunci sebagai penopang utama pasokan pangan Indonesia, dengan mendominasi produksi tujuh komoditas strategis nasional, yaitu susu 57,91 persen, cabe rawit 37,01 persen, telur ayam 32,13 persen, jagung 28,39 persen, pisang 28,63 persen, daging sapi 20,20 persen, padi 17,34 persen.
Selain ketujuh komoditas utama tersebut, Jawa Timur juga menempati posisi kedua nasional untuk komoditas bawang merah dengan kontribusi sebesar 22,91 persen.
Realisasi anggaran Rp904,23 miliar tersebut digelontorkan melalui sejumlah kementerian teknis. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menjadi penyalur terbesar dengan angka Rp533,36 miliar (33,02% dari pagu) untuk mendukung jaringan irigasi dan infrastruktur pertanian.
Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatatkan persentase penyerapan tertinggi dengan realisasi Rp135,11 miliar atau mencapai 50,02% dari total pagu. Adapun Kementerian Pertanian telah merealisasikan anggaran sebesar Rp194,79 miliar (14,30% dari pagu).
Dengan akselerasi APBN yang melonjak tajam ini, Jawa Timur diharapkan tidak hanya mampu memacu produksi dan menjaga stabilitas harga pangan lokal, tetapi juga semakin kokoh menjadi benteng utama ketahanan pangan nasional.





