Lumajang,(DOC) – Menteri Pertanian Republik Indonesia (Mentan RI), Dr. H. Andi Amran Sulaiman, menyampaikan pesan tegas soal mafia pupuk, saat melakukan kunjungan kerja ke kebun tebu P240T di Jatiroto, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (10/6/2025). Ia menyoroti praktik-praktik yang merusak sistem pertanian, mulai dari titipan jabatan hingga permainan harga pupuk yang membebani petani.
Di hadapan para pejabat dan petani, Amran menegaskan bahwa praktik titipan dalam penempatan jabatan tidak boleh terjadi di lingkungan Kementerian Pertanian (Kementan). Ia menyebut titipan sebagai sumber kekacauan dan penyebab utama runtuhnya sistem kerja yang sehat.
“Kalau ada orang minta jabatan karena titipan, bukan karena kinerja, maka dialah perusak sistem. Komando jadi tidak jelas, dan semangat kerja tim hancur. Jangan beri ruang untuk titipan!” ujar Amran dengan lantang.
Selain menyoroti integritas, Amran juga menantang jajaran kementerian untuk meningkatkan kinerja secara signifikan. Ia meminta pimpinan proyek dan direktur di sektor pertanian untuk tidak puas dengan capaian biasa-biasa saja.
“Kalau hanya naik 10 persen, itu tidak cukup. Saya minta tiga kali lipat. Untuk yang menangani 15 ribu hektare di Lumajang, saya hanya minta 150 ribu ton, bukan 252 ribu ton. Tapi target itu harus tercapai!” tegasnya.
Fokus Produksi dan Regenerasi: Menyasar Petani Muda
Mentan Amran juga menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan dalam dunia pertanian. Ia berharap generasi muda mulai tertarik kembali untuk menekuni sektor ini, asalkan sistemnya sehat dan hasilnya nyata.
“Kalau kita serius, ekonomi bergerak, buruh nyaman, petani senang, dan milenial pun akan kembali ke pertanian. Ini yang saya tunggu dua tahun ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan produktivitas yang signifikan akan menciptakan efek domino positif—dari kesejahteraan petani hingga stabilitas harga pasar.
Ketegasan Amran semakin terasa ketika Bupati Lumajang, Indah Amperawati, melaporkan maraknya penjualan pupuk bersubsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh distributor nakal. Tanpa ragu, Amran langsung memerintahkan aparat untuk bertindak.
“Saya minta Kapolres turun tangan. Kalau ada distributor yang berani main harga, cabut izinnya! Jangan beri ruang bagi mafia pupuk,” ujarnya tajam.
Menurut Amran, praktik semacam ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap petani yang selama ini berjuang keras di lapangan.
“Petani sudah cukup menderita. Jangan tambah beban mereka dengan permainan harga. Aparat penegak hukum harus berani bertindak, jangan ragu,” tegasnya.(imam)





