Rojali dan Rohana, Tantangan yang Bisa Jadi Peluang Ekonomi Surabaya

Rojali dan Rohana, Tantangan yang Bisa Jadi Peluang Ekonomi Surabaya

Surabaya,(DOC) – Fenomena Rombongan Jarang Beli (Rojali) dan Rombongan Hanya Nanya (Rohana) yang mulai bermunculan di pusat perbelanjaan Surabaya tidak sepenuhnya menjadi kabar buruk. Menurut Budi Leksono, anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya sekaligus Ketua Fraksi PDI Perjuangan, tren ini bisa di ubah menjadi peluang ekonomi jika di kelola secara kreatif.

Bacaan Lainnya

Budi menyebut, menurunnya daya beli saat ini tidak lepas dari faktor global.

“Efisiensi dan perlambatan ekonomi dunia akibat perang juga berdampak ke Indonesia, termasuk Surabaya,” ujarnya, Jumat (8/8/2025).

Meski daya beli turun, Budi mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya menciptakan wisata hemat, seperti revitalisasi Jalan Tunjungan dan Kawasan Kota Lama. Lokasi-lokasi ini tetap ramai di kunjungi tanpa warga harus mengeluarkan biaya besar.

“Wisata belanja mulai bergeser ke wisata nongkrong dan kuliner murah. Ini peluang yang harus di manfaatkan pemerintah,” tegasnya.



Budi menilai, meski Surabaya tidak punya wisata alam, peluang menarik wisatawan tetap besar. Strateginya adalah memperbanyak event berskala nasional dan internasional. Ia mencontohkan Bangkok dan Singapura yang sukses menarik wisatawan lewat pertunjukan kelas dunia.

“PAD dari sektor wisata bisa menopang APBD, mulai dari pajak restoran, retribusi tenant, hingga parkir,” jelasnya.

Strategi Mengubah Rojali & Rohana Jadi Potensi Penghasilan

Budi mendorong Pemkot mengambil langkah strategis agar aktivitas nongkrong di mal dan pusat perbelanjaan ikut berdampak positif, di antaranya:

1. Dorong Mal & UMKM Beradaptasi – Hadirkan experience zone, spot foto Instagramable, hingga pop-up store UMKM dengan harga sewa terjangkau.

2. Program Kreatif Anak Muda di Mal – Gelar lomba kreatif, workshop, dan konser mini agar mal jadi pusat kegiatan produktif.

3. Fasilitasi Ekonomi Kreatif – Luncurkan Mall Startup Corner dan kompetisi bisnis ritel kecil dengan hadiah tempat usaha gratis.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Perkuat Ikhtiar Spiritual Hadapi Cuaca Ekstrem

4. Edukasi Gaya Hidup Finansial Sehat – Gandeng sekolah dan komunitas untuk literasi keuangan generasi muda.

5, Riset & Monitoring Pola Konsumsi – Kolaborasi Dinas Perdagangan dan pengelola mal untuk memetakan perilaku pengunjung.

“Bukan di ubah jadi rombongan belanja banyak secara paksa, tapi di arahkan agar nongkrong mereka punya efek ekonomi dan sosial positif,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait