Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya mempercepat upaya eliminasi stunting lewat Gebyar Lomba Bersama Wujudkan Surabaya Emas (BWSE) Jilid IV. Program ini tidak hanya menjadi ajang lomba, tetapi juga media edukasi dan pendampingan keluarga untuk memastikan tumbuh kembang anak berlangsung optimal.
Ketua TP PKK Surabaya, Rini Indriyani, mengatakan bahwa pelaksanaan BWSE Jilid IV dimulai sejak 30 Juni 2025. Ia dan tim melakukan sosialisasi kepada seluruh Ketua TP PKK kecamatan dan kelurahan. Tujuannya untuk mempersiapkan peserta serta Tim Pendamping Keluarga (TPK) di wilayah masing-masing.
“Berbeda dari edisi sebelumnya, kali ini BWSE menargetkan 607 baduta (bayi di bawah dua tahun) dengan indikasi T2, yaitu tidak mengalami kenaikan berat badan dua kali berturut-turut,” ujar Rini pada Sabtu (5/7/2025).
Dari jumlah itu, 150 bayi berusia 0–6 bulan, 153 baduta berusia 7–11 bulan, dan 304 baduta berusia 12–24 bulan. Seluruh data berasal dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan telah dikonfirmasi melalui kerja sama lintas sektor seperti TP PKK kelurahan dan puskesmas setempat.
Mulai 5 Juli hingga 30 Agustus 2025, tim memberikan intervensi kesehatan dan gizi secara terpadu kepada seluruh baduta. Dokter spesialis anak di setiap puskesmas memeriksa tumbuh kembang mereka. Selain itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menyalurkan ikan, Dinas Kesehatan menyiapkan susu untuk anak usia 7–24 bulan, dan PDAM Surya Sembada menyediakan telur setiap hari. Anak yang alergi telur akan menerima pengganti berupa ikan atau daging.
Rini juga menyampaikan bahwa pelatihan pemahaman laktasi dan MPASI digelar pada 19 dan 28 Juli serta 2 Agustus 2025. Konselor laktasi dari dokter spesialis anak memberikan bimbingan langsung kepada para orang tua.
Edukasi Pola Asuh dan Penilaian Kampung ASI
Selain aspek gizi, program BWSE mencakup edukasi tentang pola asuh anak. Orang tua belajar cara menyuapi yang benar dan menjaga kebersihan lingkungan. Penekanan pada peran orang tua menjadi fokus utama agar pola hidup sehat dapat di terapkan secara konsisten.
Tim juri dari berbagai latar belakang profesional dan akademis menilai peserta. Penilaian berasal dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Poltekkes Kemenkes, serta TP PKK Surabaya. Mereka menilai kesesuaian tumbuh kembang anak berdasarkan Kartu Menuju Sehat (KMS), kondisi rumah, kreativitas dalam mengolah makanan, dan kualitas pendampingan oleh TPK.
Program ini juga menghadirkan penilaian baru berupa “Kampung ASI”. Penilaiannya meliputi capaian ASI eksklusif, aktivitas pendampingan, serta dukungan dari lintas sektor di tingkat kelurahan.
“Selama dua bulan ke depan sangat krusial. Saya berharap para orang tua bisa konsisten menerapkan pola hidup sehat agar grafik pertumbuhan anak tidak kembali menurun,” ujar Rini tegas.
Konsultan IDAI Jawa Timur, Dr. dr. Mira Ermawati, Sp.A(K), mengungkapkan bahwa kerja sama ini merupakan kali keempat IDAI terlibat dalam program Pemkot Surabaya. Fokus mereka kali ini ialah pencegahan dini bagi bayi usia 0–6 bulan, termasuk bayi prematur.
“Stunting sering bermula dari perlekatan ASI yang kurang baik dan kurangnya asupan protein hewani saat menyusui,” kata Mira.
Untuk mendukung program, IDAI meluncurkan “1 Puskesmas 1 Pediatrician (1P1P)”, sehingga kini setiap puskesmas di Surabaya memiliki dokter spesialis anak.
Selama dua bulan, IDAI menggelar penyuluhan di 63 puskesmas. Materinya meliputi pentingnya ASI, pemantauan tumbuh kembang, serta gizi seimbang. Tim juga mengunjungi rumah peserta dan mengevaluasi hasil program secara berkala.
“Prioritas kami adalah mempererat interaksi antara dokter dan masyarakat. Kami ingin memberikan dampak positif yang nyata untuk warga Surabaya,” tutup Mira.(r7)





