Rojali dan Rohana Muda Muncul di Surabaya, Daya Beli Mulai Melemah?

Rojali dan Rohana Muda Muncul di Surabaya, Daya Beli Mulai Melemah?

Surabaya,(DOC) – Fenomena rombongan jarang beli (Rojali) dan rombongan hanya nanya (Rohana) yang sempat populer di Jakarta, ternyata juga sudah ada di Kota Surabaya. Dalam hal ini, tim redaksi d-onenews.com mencoba untuk menelusuri fenomena ini di sejumlah mall. Rojali dan Rohana ini di dominasi oleh kalangan muda dengan rentang umur 15-25 tahun.

Bacaan Lainnya

Salah satu remaja asal Surabaya bernama Andri (18), mengaku sering datang ke mal hanya untuk berkumpul bersama teman-temannya. Ia datang bersama lima orang rekannya, tanpa ada niat khusus untuk berbelanja.

“Kita ke sini cuma pingin nongkrong doang, sih,” ujar Andri saat di temui Jumat (8/8/2025).

Andri menyebut gaya hidup hemat sebagai alasan utama. Ia mengatakan bahwa orang tuanya meminta hanya membeli barang yang benar-benar di butuhkan.

“Orang tua nyuruhnya beli yang perlu aja, bukan buat gaya. Harga di mal juga sering mahal, mending beli online,” jelasnya.

Meski tidak berbelanja di toko-toko, Andri mengaku tetap mengeluarkan uang, salah satunya untuk makan di foodcourt. Ia menilai pengunjung yang datang tanpa belanja bukan hal yang perlu dipermasalahkan.

“Bukan cuma di Surabaya atau Jakarta. Di kota lain juga banyak orang datang ke mal cuma jalan-jalan,” tambahnya.

Tanggapan Pekerja Ritel

Namun dari sisi lain, pekerja toko mulai merasakan dampak dari perilaku ini. Meri, kasir di toko mainan di salah satu mal Surabaya, mengatakan fenomena rojali cukup sering terjadi.

“Walaupun gak setiap hari, tapi pasti ada yang datang cuma lihat-lihat,” ujar Meri, yang sudah bekerja di toko mainan tersebut selama tiga tahun.

Suasana salah satu mall di Surabaya Barat

Menurutnya, sebagian pengunjung hanya ingin anaknya bermain di area display mainan, sementara orang tuanya duduk-duduk di depan toko. Akibatnya, toko sempat mengubah pengaturan ruang untuk menghindari kerumunan yang tidak produktif.

“Kita sampai hilangkan tempat duduk di depan toko supaya yang cuma duduk-duduk itu berkurang. Soalnya dampaknya terasa ke penjualan,” jelasnya.

Meri menyebut ada juga pengunjung yang banyak bertanya soal produk, termasuk mainan populer, namun tidak ada niat membeli.

“Kadang mereka cuma nunggu temannya. Kadang tanya barang mahal, tapi gak ada niat beli, malah terang-terangan membandingkan dengan harga di toko online,” pungkas Meri (r6)

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Wisuda 824 Lulusan Sekolah Kemangi untuk Perkuat Ketahanan Keluarga

Pos terkait