Surabaya,(DOC) – Kota Surabaya kembali menegaskan diri sebagai kota toleransi melalui gelaran Vesak Festival 2026 yang diselenggarakan Young Buddhist Association (YBA) Indonesia di Tunjungan Plaza (TP) Surabaya.
Festival bertema “Harmony in the Middle Way” itu berlangsung mulai 31 Mei hingga 4 Juni 2026. Panitia menghadirkan berbagai instalasi budaya dan pertunjukan lintas tradisi dalam acara tersebut.
Ketua Vesak Festival, William Vijadhammo mengatakan, YBA sengaja membawa perayaan Hari Trisuci Waisak ke ruang publik agar masyarakat lebih mengenal nilai universal ajaran Buddha.
“Tahun ini kami mengangkat tema Harmony in the Middle Way. Kami ingin mengajak warga Surabaya dan sekitarnya hidup harmonis dan seimbang di tengah perbedaan,” ujar William, Kamis (28/5/2026).
Hadirkan Diorama dan Giant Buddha
Festival tersebut menampilkan sejumlah diorama interaktif dan berukuran besar. Pengunjung dapat melihat diorama kelahiran calon Buddha dengan tradisi China, Buddha Parinibbana, hingga relief Gandavyuha dan Lalitavistara khas Candi Borobudur.
Panitia juga menghadirkan instalasi Tree of Harmony dan Pilar Ashoka khas India. Selain itu, pengunjung bisa mencoba wahana interaktif seperti Roulete Dharma dan Wishing Tree.
Giant Buddha berlatar tradisi Helenistik Yunani menjadi daya tarik utama festival tersebut. Rupang Buddha itu berdiri menjulang di dalam pusat perbelanjaan.
William mengungkapkan, rupang Buddha setinggi 12,3 meter tersebut berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai rupang Buddha tertinggi di dalam gedung se-Indonesia.
“Yang paling membanggakan, kami berhasil memecahkan rekor MURI rupang Buddha tertinggi di dalam gedung se-Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, notaris telah memvalidasi pencapaian tersebut sehingga rekor MURI resmi tercatat.
Tampilkan Seni Lintas Budaya
Festival ini juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni lintas budaya. Mulai dari tari tradisional Jawa Timur, angklung Jawa Barat, Barongsai, Wayang Potehi, hingga Tari Sufi khas Timur Tengah.
YBA Indonesia turut menggandeng komunitas Gusdurian untuk menggelar lomba fotografi bertema toleransi beragama.
William menjelaskan, panitia akan menyumbangkan 50 persen hadiah lomba kepada korban intoleransi agama.
“Melalui Gusdurian, 50 persen hadiah akan kami sumbangkan kepada korban intoleransi agama,” jelasnya.
Melalui festival tersebut, YBA berharap pesan damai dan persaudaraan dapat semakin memperkuat toleransi antarumat beragama di Indonesia.
“Kami berharap kegiatan ini bisa membawa kebahagiaan dan kedamaian yang menyatukan umat beragama,” pungkas William.(ode/r7)





