4,5 Hektare Tanaman di Lumajang Gagal Panen Usai Diterjang Banjir Lahar Semeru

4,5 Hektare Tanaman di Lumajang Gagal Panen Usai Diterjang Banjir Lahar Semeru
Banjir lahar semeru di Lumajang. (Foto: Ist)

Lumajang, (DOC) – Banjir lahar hujan Gunung Semeru yang menerjang sejumlah wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Senin (2/11/2026), berdampak pada sektor pertanian.

Selain merusak tanaman milik petani, bencana tersebut juga menyebabkan sejumlah jaringan irigasi rusak sehingga mengancam pasokan air ke ratusan hektare sawah.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang, Retno Wulan Andari, mengatakan kerusakan lahan pertanian terjadi di sejumlah kecamatan, di antaranya Tempursari dan Tempeh.

Di Kecamatan Tempursari, sedikitnya 4,5 hektare tanaman pertanian dipastikan mengalami gagal panen akibat terjangan banjir lahar hujan.

Lahan tersebut terdiri atas 2 hektare tanaman padi, 1 hektare jagung, 1 hektare pisang, serta 0,5 hektare tanaman cabai.

“Total di Kecamatan Tempursari itu ada 4,5 hektare yang dipastikan mengalami gagal panen,” kata Retno saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Selain merusak tanaman, banjir lahar juga mengakibatkan infrastruktur pengairan pertanian mengalami kerusakan. Satu unit saluran irigasi perpipaan dilaporkan rusak, sementara saluran sekunder yang mengairi sekitar 70 hektare sawah tertimbun material banjir.

Kondisi tersebut membuat pasokan air ke lahan pertanian terganggu dan berpotensi menyebabkan sawah kekurangan air.

Dampak lebih luas terjadi di Kecamatan Tempeh. Sudetan Dam Klerek yang berada di Desa Gesang dilaporkan rusak hingga putus setelah diterjang banjir lahar.

Kerusakan tersebut berdampak pada jaringan pengairan pertanian di tiga desa, yakni Gesang, Pulo, dan Jatisari. Berdasarkan pendataan sementara, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 250 hektare.

Rinciannya, 50 hektare berada di Desa Gesang, 100 hektare di Desa Pulo, dan 100 hektare lainnya di Desa Jatisari.

Meski demikian, tidak seluruh lahan tersebut kehilangan pasokan air. Sebagian area masih dapat terairi melalui bangunan optimasi lahan yang berada di Desa Gesang.

“Dari luasan sekitar 250 hektare itu, masih ada yang bisa terairi sekitar 50 persen karena ada bangunan optimasi lahan di Desa Gesang. Jadi, sebagian masih bisa mendapatkan air,” ujar Retno.

Baca Juga:  Program Merdeka Belajar, Kabupaten Lumajang Peroleh Enam Penghargaan Bergengsi

Untuk membantu petani yang mengalami kerugian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang berencana mengusulkan bantuan benih kepada pemerintah pusat melalui kementerian terkait.

Bantuan yang diusulkan berupa benih padi dan jagung agar petani dapat kembali melakukan penanaman setelah kondisi lahan memungkinkan.

Namun, proses penyaluran bantuan tidak bisa dilakukan secara langsung karena harus melalui tahapan pengajuan dan verifikasi.

“Biasanya kami mengajukan terlebih dahulu ke kementerian. Nanti ada bantuan benih padi maupun jagung, tetapi tidak langsung. Bisa menunggu sekitar dua minggu hingga satu bulan setelah pengusulan,” jelasnya.

Selain Tempeh dan Tempursari, kerusakan infrastruktur pertanian juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Pasirian. Namun, dinas terkait masih menunggu pendataan lebih lanjut mengenai luas lahan yang terdampak di wilayah tersebut.

Sementara untuk mempercepat pemulihan jaringan irigasi, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lumajang telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Salah satu opsi penanganan darurat yang dibahas adalah pembangunan bronjong untuk mengarahkan aliran air agar kembali masuk ke saluran irigasi dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.

“Kemarin saya sudah bertemu dengan BBWS. Rencananya, untuk penanganan mendesak akan dibuatkan bronjong guna mengarahkan aliran air,” pungkas Retno.

Pos terkait