Geger Grup “Fantasi Sedarah” di Facebook, Polisi Turun Tangan Selidiki

Geger Grup “Fantasi Sedarah” di Facebook, Polisi Turun Tangan SelidikiJakarta,(DOC) – Warganet geger oleh kemunculan grup Facebook bernama “Fantasi Sedarah”. Grup ini berisi konten yang sangat mengkhawatirkan, yakni fantasi dan tindakan asusila yang melibatkan anggota keluarga. Grup ini memiliki anggota hingga 32.000 orang dan memicu keresahan luas di masyarakat.

Unggahan di dalam grup itu sangat tidak pantas, bahkan beberapa memuat foto korban. Tak heran, banyak netizen memberikan kecaman keras terhadap keberadaan grup tersebut.

Bacaan Lainnya

Salah satu pengguna, Wulan T Adriaan, mengekspresikan kemarahannya, “Bagaimana mungkin ada yang bangga membayangkan hal jorok dengan keluarga sendiri? Ini bukan sekadar fantasi, tapi cerminan otak rusak yang memprihatinkan.”

Polda Metro Jaya tidak tinggal diam. Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat, Ajun Komisaris Besar Reonald Simanjuntak, menyatakan bahwa Direktorat Siber telah memulai penyelidikan sejak minggu lalu. “Kami fokus mendalami aktivitas grup dan akun-akun yang terlibat,” ungkap Reonald di kutip, Jumat(16/5/2025).

Grup ini pun telah di hapus oleh Meta (Facebook) karena melanggar kebijakan komunitas mereka. Semua akun terkait juga sudah di tangguhkan.

Kasus ini mengingatkan publik pada beberapa video asusila yang sempat viral, yang memperlihatkan pelaku kekerasan seksual dalam keluarga sendiri. Dalam empat hari, polisi berhasil mengungkap dua kasus serupa, menandakan bahwa kekerasan seksual dalam keluarga masih menjadi ancaman serius.

Ancam Ruang Aman Anak di Lingkup Keluarga

Holy Ichda Wahyuni, pakar anak dari Universitas Negeri Surabaya, menegaskan bahwa situasi ini membuktikan ruang aman anak semakin tergerus, bahkan di lingkungan keluarga. Dia menekankan pentingnya pendidikan seksual sejak dini bagi anak-anak.

“Pendidikan seksual bukan hanya soal organ tubuh, tapi juga soal hak anak atas tubuhnya sendiri, privasi, dan kemampuan mengenali sentuhan yang tidak pantas,” jelas Holy.

Dia menambahkan, pelaku kekerasan sering kali orang terdekat seperti ayah kandung, paman, atau tetangga. Karena itu, anak yang menjadi korban sering kali memilih diam akibat takut atau ancaman.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Ultimatum Toko Mihol soal Konten Medsos

Holy menyerukan agar orang tua membuka ruang komunikasi yang aman dan mendukung anak untuk bercerita tanpa rasa takut atau cemas.

“Perubahan sikap anak seperti menjadi murung, takut, atau agresif bukan hanya ‘fase biasa’. Bisa jadi itu tanda trauma yang harus segera diperhatikan,” tuturnya.

Menurut Holy, tabu berbicara soal seksualitas hanya memperparah kondisi dan memperpanjang siklus kekerasan. Edukasi dan keterbukaan harus menjadi prioritas agar anak-anak bisa terlindungi dari bahaya tersebut.(r7)

Pos terkait