Kemarau Panjang Buat Cabai dan Tomat Langka, Jatim Dilanda Inflasi Oktober 0,07 Persen

Kemarau Panjang Buat Cabai dan Tomat Langka, Jatim Dilanda Inflasi Oktober 0,07 Persen
Plt Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Musim hujan yang tak kunjung tiba memukul sektor pertanian Jawa Timur. Dampaknya, harga komoditas bumbu dapur khususnya cabai merah, cabai rawit, dan tomat melonjak tajam dan mendorong Jawa Timur mencatatkan inflasi sebesar 0,07 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur melaporkan, pemicu utama inflasi kali ini adalah keterbatasan pasokan akibat cuaca ekstrem. Mundurnya awal musim hujan membuat lahan pertanian kekeringan hingga memicu gagal panen di sejumlah daerah sentra.

Bacaan Lainnya

Plt Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengungkapkan bahwa secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Jawa Timur pada Oktober 2026 menyentuh angka 3,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,61.

“Kondisi cuaca dan mundurnya musim hujan berdampak langsung pada produksi tanaman hortikultura, terutama cabai dan tomat. Keterbatasan air membuat hasil panen merosot tajam sehingga pasokan di pasar menjadi sangat terbatas,” terang Herum dalam konferensi pers di Surabaya, Selasa (3/11/2026).

Berdasarkan catatan BPS Jatim, cabai merah menjadi penyebab utama inflasi Oktober dengan sumbangan terbesar mencapai 0,05 persen.

Diikuti oleh cabai rawit dan tomat yang masing-masing menyumbang andil inflasi sebesar 0,02 persen. Komoditas lain seperti labu siam dan ikan bandeng turut mengerek harga dengan sumbangan masing-masing 0,01 persen.

Beruntung, lonjakan inflasi bahan pangan ini masih tertahan oleh penurunan harga pada sektor peternakan dan barang lainnya.

Daging ayam ras menjadi peredam utama dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,10 persen, disusul telur ayam ras, tiket angkutan udara, dan emas perhiasan yang masing-masing menyumbang deflasi 0,02 persen.

“Dengan perkembangan ini, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) Jawa Timur sejak Januari hingga Oktober 2026 kini berada di angka 2,14 persen,” tegasnya.

11 Kota/Kabupaten Kompak Inflasi, Jember Tertinggi

Baca Juga:  Empat Pahlawan Karhutla Bromo Gugur, Gubernur Khofifah Sampaikan Duka Mendalam

Kenaikan harga pangan ini dirasakan merata di seluruh pelosok Jawa Timur. BPS mencatat seluruh 11 kabupaten/kota IHK di Jatim mengalami inflasi pada Oktober 2026.

Jember memimpin sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi mencapai 0,27 persen, disusul Kota Madiun dan Bojonegoro yang sama-sama mencatat inflasi 0,20 persen.

Sementara itu, wilayah lain mencatatkan inflasi yang bervariasi, Sumenep (0,11%), Gresik (0,08%), Malang (0,06%), Banyuwangi (0,05%), Probolinggo (0,04%), Surabaya dan Tulungagung (0,02%), serta Kediri menjadi wilayah paling stabil dengan inflasi terendah 0,01 persen.

Fenomena ini menjadi peringatan awal bagi pemerintah daerah untuk menjaga rantai distribusi dan mengantisipasi gejolak harga pangan saat memasuki transisi musim hujan mendatang.

Pos terkait