
Surabaya, (DOC) – Sebuah angka di atas kertas statistik hampir saja merenggut hak Sumaiyah, seorang lansia sebatang kara di Wonorejo III, Surabaya, untuk memiliki tempat tinggal yang aman. Tercatat masuk dalam kategori Desil 4 pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ia secara administratif dianggap “terlalu mampu” untuk menerima bantuan Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) program yang selama ini mengunci kriteria penerima hanya pada Desil 1 dan 2.
Namun, kekakuan aturan kaku itu runtuh setelah tetangga Sumaiyah melayangkan laporan melalui Hotline Lapor Cak Eri.
Menanggapi aduan warga, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi turun langsung meninjau lokasi pada Sabtu (12/9/2026). Di sana, ia menyaksikan sendiri realitas yang kontras dengan data BPS atap rumah Sumaiyah rapuh membahayakan, sementara lansia tersebut hidup sendiri tanpa ada anggota keluarga yang bekerja untuk membiayai perbaikan.
Atas dasar kemanusiaan, Eri mengangkangi kekakuan kriteria desil dan memutuskan bantuan Rutilahu harus tetap diberikan.
“Dalam perhitungan desil, kalau listriknya 900 VA atau rumahnya milik sendiri, posisinya otomatis naik. Padahal realitasnya, beliau ini lansia dan tinggal sendiri, tidak ada yang bekerja,” ujar Eri.
“Tidak semua warga di Desil 4 atau 5 itu tidak butuh bantuan. Kita tidak boleh menutup mata hanya karena angka statistik,” tambahnya.
Kasus ini memicu perombakan mekanisme penyaluran bantuan di Surabaya. Eri meminta Kampung Wonorejo menjadi percontohan (pilot project), di mana RT, RW, lurah, hingga camat diwajibkan menyisir dan memverifikasi kondisi faktual warga di lapangan agar tidak ada lagi masyarakat rentan yang ‘tereliminasi’ oleh algoritma data.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya, Iman Krestian, mengonfirmasi perbaikan fisik rumah Sumaiyah akan segera dieksekusi secara menyeluruh.
“Konstruksi atapnya sudah lumayan rapuh. Pekerjaan akan fokus pada peninggian lantai, perbaikan toilet, peninggian atap, penyesuaian kusen, hingga pembenahan area mezzanine agar aman dihuni,” pungkas Iman.





