Istilah ‘Londo Ireng’ Prabowo Dikritik, Kepala Bakom RI: Lihat Subtansinya

Istilah 'Londo Ireng' Prabowo Dikritik, Kepala Bakom RI: Lihat Subtansinya
Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari saat mengunjungi Sekolah Rakyat di Surabaya. (Foto:redaksi)

Surabaya, (DOC)Kepala Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI) Muhammad Qodari, membeberkan makna di balik pidato Presiden RI Prabowo Subianto terkait istilah Londo Ireng yang belakangan ini menuai kontroversi di tengah masyarakat.

Qodari menegaskan bahwa publik seharusnya tidak menyaring atau menyoroti sepenggal kalimat saja tanpa memahami konteks dan substansi secara menyeluruh.

Bacaan Lainnya

“Pertama begini, kalau mengenai pernyataan Presiden, mari kita lihat rangkaian pidato Presiden. Semuanya itu untuk membela kepentingan rakyat,” ujar Qodari di sela kunjungan kerjanya di Surabaya, Selasa (28/7/2026).

Ia menguraikan bahwa narasi utama yang diusung Presiden Prabowo dalam setiap arahannya selalu konsisten pada tujuan memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

“Konsisten sekali pidato Presiden itu. Selalu berbicara tentang meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup petani maupun nelayan, ketahanan pangan, swasembada beras, hingga ketahanan energi,” bebernya.

Qodari mencontohkan, komitmen nyata pemerintah tercermin dari keberanian mengeksekusi target pengembangan bahan bakar nabati B50 (campuran 50 persen biodiesel dan 50 persen solar fosil) demi kemandirian energi nasional, serta mengurai kebuntuan proyek-proyek strategis.

“Kemudian bagaimana proyek gas Blok Masela yang sempat mangkrak 28 tahun akhirnya bisa dimulai. Jadi InsyaAllah , kalau kita fokus kepada substansi, itulah poin-poin yang sesungguhnya dari pidato Pak Presiden,” tegas Qodari.

Pernyataan Presiden Prabowo yang memicu kritik publik tersebut sejatinya dilontarkan saat memberi sambutan dalam Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (22/7/2026) malam.

Dalam kesempatan itu, Prabowo melayangkan kritik keras terhadap pihak-pihak yang ia nilai masih memelihara mentalitas bak penjajah modern.

“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” cetus Prabowo dalam pidatonya.

Baca Juga:  PLN Tinjau Kesiapan SPKLU Jalur Mudik Surabaya–Bali, Pastikan Pemudik Kendaraan Listrik Nyaman

Sebagai informasi, istilah Londo Ireng secara historis pada zaman penjajahan Belanda disematkan untuk menyebut kalangan pribumi yang memihak kolonial dan mengkhianati bangsanya sendiri. Pernyataan pedas ini lantas memicu pro dan kontra dari berbagai kalangan, khususnya pegiat HAM, media, dan LSM.

Pos terkait