Jargas Rusun: Dapur Ngepul, Untung Ngumpul

Tidak ada komentar 71 views

 

Surabaya, (DOC) – Aroma sedap tercium di lorong lantai dua Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Penjaringan Sari, Rungkut Surabaya, siang itu. Seorang ibu berhijab beserta suaminya tengah sibuk mengemas beraneka kue ke dalam ratusan dus yang disiapkan.

Pasutri tersebut adalah Anik Pujiati (49) dan Budi Wahyudi (50) warga Blok F/B-212 Rusun Penjaringan Sari, Rungkut Surabaya. Anik merupakan satu dari 20 pengusaha UKM (Usaha Kecil Menengah) Kampung Kue di rusunawa ini. Sebelumnya, mereka merupakan keluarga yang tergusur dari permukiman liar di daerah Kalibokor, Surabaya.

Setelah pindah di rusunawa pada 2004, Anik harus berhenti berjualan nasi. Keluarganya hanya mengandalkan, ekonomi sang suami yang berjualan alat-alat listrik kecil-kecilan. Anik hanya menjadi ibu rumah tangga dan merawat anak.

Beruntung, pada 2010, dia beserta kalangan ibu rumah tangga lain mendapat bekal pelatihan memasak dari dinas perdagangan dan perindustrian setempat. Singkat cerita, Anik mulai merintis usaha kecilnya untuk membuat kue dan snack sesuai orderan pembeli. Bersama ibu rumah tangga lainnya di blok F dan blok E, mereka membentuk UKM kue hingga mendapat julukan Rusun Kue.

Setahun terakhir, perekonomian keluarga kecil ini mulai tertata dengan matang. Terlebih, semenjak menekuni usaha pembuatan kue dan katering partai kecil hingga menengah.

Anik menjadi satu dari dua puluh keluarga lain anggota UKM Paguyuban Kampung Kue atau Rusun Kue Penjaringan Sari yang memanfaatkan fasilitas jaringan gas PGN (Perusahaan Gas Negara) yang bernilai ekonomis.

Dapur Anik terus mengepul, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya sehari-hari. Kompor miliknya juga terus menyala untuk memenuhi pesanan pelanggan kue.

“Alhamdulillah hari ini dapat pesanan 200 dus kue. Ada acara khitanan dari seorang pelanggan,” cerita Anik pada Kumparan, sembari bergegas mengepak risols dan kue sus, Jumat (14/12/2018).

Anik mengaku bersyukur lantaran pesanan sedang ramai pada beberapa waktu terakhir. Orderan bisa diterima sewaktu-waktu. Bahkan, tak jarang dia harus lembur semalaman demi mengerjakan pesanan yang mendadak.

Alhasil, kompor dapurnya bisa terus menyala tanpa henti. Namun, dia merasa lega karena kini tak pernah takut kelabakan karena kehabisan suplai gas rumah tangga untuk memasak.

“Belum tidur semalaman mas. Nyiapin orderan ini. Alhamdulillah gasnya lancar, sekarang kan nggak takut kehabisan kalau malam-malam,” ujar ibu dua anak ini.

Anik mengaku, usaha kuenya terus berkembang secara pelan tapi pasti. Omzet pun cukup merangkak. Bila dulu dia berniat membantu menambah pendapatan suaminya, kini sang suami justru kerap membantunya mengolah kue.

“Kalau pesanan nggak setiap hari mas. Tapi seminggu minimal ya tiga sampai empat kali. Seminggu bisa untung bersih Rp 1 – 2 jutaan sudah Alhamdulillah,” ujar Anik.

Wanita berusia kepala empat itu juga merasakan, biaya operasional yang banyak ditekan usai memanfaatkan jaringan gas yang ada di rusun Penjaringan Sari. Pasalnya, Anik pernah memakai blue gas. Namun, lantaran harganya cukup tinggi, dia beralih ke tabung gas melon tiga kilogram.

Dia bersyukur tempat tinggalnya mendapat aliran jaringan gas nasional PGN mulai pertengahan 2017 lalu. Sejak itu, dia mulai menyimpan tabung gas lamanya. “Dulu saya pakai blue gas, tapi mahal dan tidak ideal. Kalau tabung melon bisa habis 5-7 tabung tergantung jumlah orderan. Kalau sekarang cuma bayar bulanan Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribuan saja,” ujarnya.

Artinya, bila per bulan mengonsumsi 7 tabung gas subsidi melon dengan harga Rp 17.500, Anik harus merogoh kocek hingga Rp 122.500, belum pula ongkos transport untuk mengambil tabung. Sedangkan sejak memakai meteran jargas, rata-rata per bulan Anik harus membayar Rp 90 ribu sampai dengan Rp 100 ribu.

Dengan selisih pengeluaran yang mencapai 30 persen setiap bulan itu, dia bisa menyisihkan pengeluaran tabung gas untuk tabungan atau tambahan operasional. “Alhamdulillah, dapur mengepul terus karena gasnya nggak takut kehabisan. Untungnya juga ngumpul buat ditabung,” tandasnya.

Anik sendiri bukan satu-satunya ibu rumah tangga yang berhasil meraup untung dengan membuat kue. Paguyuban Kampung Kue Rusun Penjaringan Sari bisa menjalankan produksi ratusan dus pesanan setiap harinya. Mereka memiliki pelanggan masing-masing serta bersaing dengan sehat.

Ibu-ibu di paguyuban ini juga tak segan untuk saling berbagi ketika mendapat orderan dalam partai besar. Sehingga, setiap UKM tetap mendapat rejeki dan keuntungan secara merata.

“Kalau pesanan 500 dus saya dibantu tetangga sebelah masih bisa. Kalau 1000 dus ke atas, kita bagi sama ibu UKM lain. Nanti misalnya, saya yang bikin kue lempernya, bu Joko yang bikin pastel,” terang Anik.

Terpisah, Mochamad Jamil, Lurah Penjaringan Sari, Kecamatan Rungkut, Surabaya mengungkapkan, Rusun Penjaringan Sari sudah menjadi semacam ikon Rusun Kue yang dikenal di Surabaya. Selain even besar lokal yang digelar Pemerintah Kota Surabaya, UKM Kampung Kue juga menjadi langganan setiap agenda acara kedinasan.

Keberadaan sarana jaringan gas PGN juga dirasakan cukup membantu kehidupan perekonomian sejumlah warga rusun sehingga lebih mandiri dan tercukupi. Meski skala rumah tangga, namun UKM Kue bisa menghidupi mereka.

“Sejak dipasang secara serentak jargas di semua Blok Rusunawa pada April 2017, usaha UKM Kampung Kue semakin berkembang. Para ibu rumah tangga bisa menambah penghasilan keluarga mereka,” ujar Jamil.

Selain itu, lanjut Jamil, Kampung Kue sering menjadi objek kunjungan dari mahasiwa luar negeri untuk studi banding. “Biasanya tamu mahasiswa asing bersama mahasiswa ITS datang untuk belajar mengolah kue tradisional dan tradisi unik lainnya,” ujar Jamil. (Pbr)