Mantan Kajati Cangkrukan Anti Korupsi, Bareng Ratusan Emak-Emak

Surabaya,(DOC) – Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Timur, Maruli Hutagalung, diundang warga menghadiri “Cangkrukan Anti-Korupsi” dalam rangka Hari Anti-Korupsi Internasional yang jatuh tiap tanggal 9 Desember. Diskusi bergaya cangkrukan khas Jawa Timur itu dihadiri ratusan emak-emak di kawasan Tambaksari, Surabaya, Sabtu(8/12/2018) malam.

Ditemani pisang goreng, kacang goreng, lumpia, roti kukus, es teh, dan kopi, diskusi tersebut berlangsung gayeng. Diskusi berlangsung dua arah selama 60 menit. Berbagai cerita mengalir, mulai dikirimi kepala anjing saat menahan koruptor sampai janji donasi setengah gaji jika Maruli terpilih sebagai anggota DPR.

“Saya 38 tahun jadi jaksa, sudah pensiun, sebenarnya ingin santai sama tiga cucu saya. Tapi karena soal ambil peran mewujudkan sistem hukum anti-korupsi, saya tergerak terjun ke dunia politik dengan menjadi calon anggota DPR RI dari Partai NasDem, dari daerah pemilihan Surabaya dan Sidoarjo,” kata Maruli membuka diskusi.

Maruli kembali menyinggung komitmennya untuk mendonasikan setengah gajinya jika terpilih menjadi anggota DPR untuk masyarakat Surabaya dan Sidoarjo. Mekanismenya bisa melalui donasi ke panti asuhan dan warga kurang mampu.

“Mengapa hanya setengah gaji? Karena kalau semuanya berarti saya bohong. Kalau semua gaji saya sumbangkan, kegiatan operasional saya duit dari mana? Kan saya tidak mau main proyek,” tegas Maruli disambut tepuk tangan emak-emak.

Di tengah diskusi, sejumlah warga menanyakan suka-duka pengalaman Maruli memberantas korupsi. “Apa pernah ada ancaman-ancaman yang membuat Pak Maruli takut?” tanyaSiti Fatimah, salah seorang warga.

Maruli mengisahkan salah satu pengalamannya ketika mengusut perkara korupsi di Papua. Saat menersangkakan seorang pejabat, tiba-tiba saat bangun tidur di pagi hari, ada kepala anjing dengan darah masih segar digantungkan di pagar rumah dinasnya.

“Saya tanya ke tim, apa maksudnya ini? Dijawab, ya kira-kira nanti kepala Pak Maruli akan seperti itu kalau kasus tersebut dilanjutkan. Wah ngeri-ngeri sedap juga ya,” cerita Maruli.

“Tapi saya cuek saja, saya nekat, karena toh niat saya baik. Saya bersyukur kepala saya masih menempel di leher sampai detik ini,” imbuh Maruli disambut tawa emak-emak.

Maruli menambahkan, korupsi telah merugikan rakyat, termasuk kaum ibu. “Ada gedung pendidikan dikorupsi, cepat rusak, yang rugi anak emak-emak. Jalan-jalan rusak juga karena korupsi,” ujar Maruli yang telah menahan ratusan koruptor selama menjadi jaksa.

Contoh lainnya, soal pelayanan kesehatan. Karena permasalahan korupsi, ada masyarakat yang belum bisa menikmati pelayanan kesehatan secara optimal.

“Termasuk harga obat-obatan dan alat kesehatan menjadi lebih mahal karena ada praktek korupsi. Jadi korupsi wajib kita berantas,” tegas Maruli yang pernah dua kali menyabet penghargaan sebagai kepala kejaksaan tinggi terbaik dalam pemberantasan korupsi.

Menurut Maruli, emak-emak punya peran penting dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi. Emak-emak bisa mendidik keluarganya untuk selalu berperilaku jujur.

“Emak-emak punya pengaruh kuat, jadi mari ajak lingkungannya memilih wakil rakyat yang teruji berani melawan korupsi,” ajak Maruli.(robby/r7)